Minggu, 19 April 2026

Kawasan Industri Weda Bay Halmahera Tengah Manfaatkan Limbah Batu Bara untuk Bahan Konstruksi

Limbah batu bara FABA diolah dengan teknologi untuk menekan emisi di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah.

HO/IST/dok.
LIMBAH BATU BARA - IWIP memanfaatkan FABA sebagai bahan baku alternatif untuk produk konstruksi seperti batako, paving block, conblock, serta sebagai bahan substitusi dalam campuran beton. 
Ringkasan Berita:
  • Limbah batu bara FABA diolah dengan teknologi untuk menekan emisi di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah.
  • Fly ash merupakan partikel halus hasil pembakaran material yang mengandung mineral, terutama dari penggunaan batu bara pada PLTU.
  • FABA diolah jadi bahan baku alternatif untuk produk konstruksi seperti batako, paving block, conblock, serta sebagai bahan substitusi dalam campuran beton.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri nasional melakukan pengendalian emisi dalam operasionalnya sebagai upaya menjaga kualitas lingkungan.

Satu di antaranya dilakukan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dalam mengolah limbah batu bara di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, seperti abu terbang (Fly Ash) dan abu dasar (Bottom Ash) atau FABA dengan penerapan teknologi.

Fly ash merupakan partikel halus hasil pembakaran material yang mengandung mineral, terutama dari penggunaan batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sedangkan bottom ash merupakan partikel yang lebih berat dan mengendap di dasar tungku pembakaran.

Partikel ini memiliki potensi tersebar ke udara apabila tidak dikendalikan secara optimal, sehingga memerlukan pengelolaan yang tepat dan sesuai ketentuan.

Corporate Environmental Manager PT IWIP, Yofi Safutra, menyampaikan IWIP telah menerapkan sistem pengendalian emisi yang dirancang untuk meminimalkan potensi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

"Fly ash yang dihasilkan dari proses pembakaran ditangkap menggunakan teknologi Electrostatic Precipitator (ESP) dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Teknologi ini berfungsi untuk mengendalikan partikel agar tidak terlepas ke udara bebas," ujar Yofi dikutip Selasa (14/4/2026).

Selain fly ash, IWIP juga mengelola bottom ash, yaitu partikel yang berukuran lebih besar dan mengendap di dasar tungku pembakaran.

Baca juga: Permintaan Pengolahan Limbah Industri Meningkat, Emiten MHKI Catat Pendapatan Naik 24 Persen

Material ini dikumpulkan langsung dari sistem boiler dan ditempatkan pada fasilitas penyimpanan yang dirancang khusus guna mencegah potensi penyebaran ke lingkungan.

Yofi menekankan, seluruh proses pengelolaan FABA dilaksanakan mengacu pada dokumen lingkungan yang telah disetujui serta regulasi nasional yang berlaku.

“Kami juga melakukan pemantauan kualitas udara ambien dan parameter lingkungan lainnya secara berkala untuk memastikan seluruh operasional tetap memenuhi baku mutu yang ditetapkan,” tambah Yofi.

Dalam kondisi tertentu dan melalui proses yang memenuhi persyaratan, material ini dapat dimanfaatkan kembali (reuse) maupun didaur ulang (recycle) sebagai bahan pendukung dalam berbagai kebutuhan industri.

Baca juga: Pakar IPB Sebut Limbah Sawit Bisa Gantikan Pupuk Kimia Impor

Dalam implementasinya, IWIP memanfaatkan FABA sebagai bahan baku alternatif untuk produk konstruksi seperti batako, paving block, conblock, serta sebagai bahan substitusi dalam campuran beton.

Pemanfaatan ini digunakan pada berbagai pembangunan infrastruktur internal perusahaan, seperti fasilitas olahraga karyawan, taman, akomodasi, jalur pedestrian, serta kegiatan pemeliharaan lainnya. 

“Melalui penerapan teknologi serta pengelolaan yang berkelanjutan, IWIP berupaya memastikan bahwa potensi dampak FABA dapat dikendalikan sekaligus mendukung operasional industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkasnya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved