Iran Vs Amerika Memanas
Harga Kripto Melonjak Imbas Adanya Tarif Tol Kapal Tanker di Selat Hormuz Gunakan Bitcoin
Lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global.
Ringkasan Berita:
- Bitcoin naik 6 persen mendekati 75.000 dolar AS dipicu konflik geopolitik dan kebijakan Iran.
- Kripto kian dilirik sebagai safe haven di tengah inflasi dan ketidakpastian global.
- Arus dana ETF dan likuidasi short posisi turut memperkuat kenaikan harga.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga Bitcoin mencatatkan lonjakan 6 persen hingga mendekati level 75.000 dolar AS pada awal pekan ini, dipicu oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat.
Kemudian, Iran merespons dengan kebijakan tak terduga, yakni mewajibkan pembayaran ‘Tol Bitcoin’ bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.
Dinamika geopolitik ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short atau pendek senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern.
Baca juga: Tarif Tol Bitcoin di Selat Hormuz Picu Sorotan Global, PBB Sebut Langgar Hukum Internasional
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyatakan lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global.
“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” ujar Antony dikutip Rabu (15/3/2026).
Langkah Iran mengenakan tarif setara 1 dolar AS per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik yang masif secara instan.
Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, inflasi (CPI) Amerika Serikat yang naik ke 3,3 persen pada Jumat (10/4) menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tren 1–2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4 persen–3 persen.
Ia menyebut, kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi, sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin, serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.
Lebih lanjut Ia mengatakan, pada kisaran harga 74.000 dolar AS - 75.000 dolar AS saat ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan penguatan turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April.
"Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek," ucapnya.
Sentimen positif ini turut mendongkrak aset kripto lainnya.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) terdongkrak naik 8 persen ke level 2.380 dolar AS, diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2 persen ke 86,60 dolar AS, serta BNB yang naik 3,2 persen ke posisi 615,50 dolar AS.
Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru
dalam adopsinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-kripto-Bitcoin-OK.jpg)