PHE Garap WK Lavender di Sulawesi dengan Kontrak 30 Tahun
PHE mengalokasikan dana 2,8 juta dolar AS untuk studi geologi dan geofisika, akuisisi seismik 2D sepanjang 100 kilometer, serta survei seismik 3D.
Ringkasan Berita:
- PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender mengantongi Kontrak Kerja Sama untuk Wilayah Kerja (WK) Lavender bersama SKK Migas.
- WK Lavender menjadi blok keenam yang diperoleh PHE sejak 2023 untuk memperluas kegiatan eksplorasi demi menemukan sumber daya migas baru.
- Dalam tiga tahun awal eksplorasi, PHE mengalokasikan dana 2,8 juta dolar AS untuk studi geologi dan geofisika, akuisisi seismik 2D sepanjang 100 kilometer, serta survei seismik 3D.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender, resmi mengantongi Kontrak Kerja Sama (KKS) atau Production Sharing Contract (PSC) untuk Wilayah Kerja (WK) Lavender bersama SKK Migas.
Blok baru ini mencakup wilayah offshore (lepas pantai) dan onshore (darat) Sulawesi Selatan, serta offshore Sulawesi Tenggara.
WK Lavender menjadi blok keenam yang diperoleh PHE sejak 2023. Penambahan portofolio ini menunjukkan langkah agresif perusahaan dalam memperluas kegiatan eksplorasi demi menemukan sumber daya migas baru, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan investasi sektor energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
"Ketahanan energi nasional bukan pilihan, tapi keharusan. PHE berdiri di garis depan untuk memastikan produksi migas tetap terjaga hari ini, sambil menyiapkan energi masa depan Indonesia," tutur Direktur PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender Ruby Mulyawan dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Wilayah kerja ini didapat melalui skema penawaran langsung dalam Indonesia Petroleum Bidding Round (IPBR) Tahap 2 Tahun 2025.
Dalam kontraknya, digunakan skema cost recovery dengan masa berlaku selama 30 tahun dan menunjuk PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender sebagai operator. Adapun luas area kerja mencapai 8.206,95 kilometer persegi.
Dalam tiga tahun awal eksplorasi, kontraktor berkomitmen menggelontorkan dana pasti sebesar 2,8 juta dolar AS. Dana tersebut akan digunakan untuk studi geologi dan geofisika, akuisisi seismik 2D sepanjang 100 kilometer, serta survei seismik 3D seluas 200 kilometer persegi.
Baca juga: Pertamina Resmi Alihkan PI 10 Persen dari WK Rokan dan WK Kampar untuk Provinsi Riau
Sebelum kontrak diteken, seluruh kewajiban finansial telah dipenuhi, termasuk pembayaran bonus tanda tangan sebesar 200.000 dolar AS dan penyerahan jaminan pelaksanaan kepada pemerintah melalui SKK Migas.
Sebagai subholding upstream Pertamina, PHE menegaskan akan terus memperkuat investasi di sektor hulu migas dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Perusahaan juga menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap penyuapan melalui penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.
Baca juga: SKK Migas Ungkap Lifting Minyak Akhir Tahun 2022 WK Pangkah Tembus 7.620 Barel
Melalui pengelolaan operasi yang profesional dan berkelanjutan, PHE menargetkan diri menjadi perusahaan migas kelas dunia yang ramah lingkungan, bertanggung jawab secara sosial dan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik.
Penandatanganan kontrak dilakukan oleh Direktur PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender Ruby Mulyawan dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di Jakarta pada 11 Februari 2026.
Proses tersebut kemudian diperkuat dengan penandatanganan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 17 Maret 2026, menandai dimulainya fase eksplorasi migas di wilayah tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/WK-baru-PHE.jpg)