Dorong UMKM Naik Kelas, Forum Bincang Mapan 2026 Soroti Risiko dan Ekspansi Bisnis
Baik secara luring maupun daring, peserta dibekali strategi ekspansi, pengelolaan arus kas, serta langkah menjaga stabilitas usaha
Ringkasan Berita:
- Forum Bincang Mapan 2026 digelar untuk mendorong UMKM, khususnya perempuan, membangun bisnis berkelanjutan.
- Materi mencakup strategi ekspansi, pengelolaan arus kas, diferensiasi produk, dan pentingnya manajemen risiko.
- Pelaku usaha diingatkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas sebagai kunci keberlanjutan bisnis.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang Hari Kartini, kontribusi perempuan dalam perekonomian nasional kian menonjol, terutama melalui peran mereka sebagai pelaku UMKM.
Dengan proporsi sekitar 64,5 persen dari total pelaku UMKM di Indonesia, perempuan menjadi salah satu motor utama ekonomi, di tengah dominasi sektor UMKM yang mencakup hampir seluruh unit usaha di Tanah Air.
Dalam konteks tersebut, pelaku bisnis jasa asuransi, Prudential Indonesia, menggelar Forum “Bincang Mapan 2026” di PRU University, Kota Kasablanka, Jakarta.
Forum ini dirancang untuk mendorong pelaku UMKM tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada keberlanjutan melalui perencanaan matang dan pengelolaan risiko yang terstruktur.
Kegiatan ini diikuti sekitar 360 pelaku UMKM, dengan lebih dari 80% peserta merupakan perempuan.
Baik secara luring maupun daring, peserta mendapatkan pembekalan terkait strategi ekspansi, pengelolaan arus kas, serta langkah menjaga stabilitas usaha di tengah dinamika pasar.
Baca juga: Pemerintah Bawa 40 UMKM ke Pameran FHA 2026 di Singapura, Kantongi Kontrak Eskpor Rp 54,5 Miliar
Satu peserta, Ariyanti, membagikan pengalamannya beralih dari bisnis fashion ke kuliner sejak 2015. Ia mengakui tantangan terbesar adalah beradaptasi di bidang baru yang belum dikuasai.
Pengalaman tersebut mencerminkan bahwa membangun usaha memerlukan keberanian sekaligus kesiapan menghadapi risiko.
Chief Product Officer Prudential Indonesia, Astono Hermawan, menekankan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh aspek operasional, tetapi juga oleh kekuatan fondasi keuangan.
“Aset terpenting dalam bisnis adalah keyakinan pada diri sendiri, namun keberlanjutan tetap membutuhkan perencanaan yang matang, terutama dalam aspek keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tiga hingga lima tahun pertama merupakan fase paling krusial yang kerap menentukan kelangsungan usaha.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Founder Maicih, Reza Nurhilman, yang menyoroti pentingnya diferensiasi produk sebagai kunci membangun bisnis dari nol.
Ia mencontohkan strategi Maicih dalam menciptakan kategori baru melalui konsep makanan pedas berlevel. Selain itu, peluang seperti menjadi reseller juga dapat dimanfaatkan untuk memahami pasar sebelum melakukan ekspansi.
Reza juga mengingatkan adanya dilema antara ekspansi dan stabilitas bisnis. Ekspansi memang dapat mendorong pertumbuhan, namun berisiko terhadap arus kas. Karena itu, pelaku usaha perlu memastikan kesiapan modal dan sistem sebelum melakukan ekspansi agresif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/umkm222222.jpg)