Selasa, 5 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Makin Ambruk di Atas Rp17.400 per Dolar AS, Dihantam Perang di Selat Hormuz

Ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20% dibanding sehari sebelumnya. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah ke Rp17.428/USD dipicu konflik AS-Iran dan Ukraina-Rusia.
  • Lonjakan harga minyak dorong kebutuhan dolar dan tekanan inflasi global.
  • Faktor domestik seperti impor minyak dan dividen turut tekan rupiah.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) semakin terperosok hingga di atas level Rp17.400.

Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20 persen dibanding sehari sebelumnya.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penyebab utama pelemahan mata uang rupiah yaitu faktor eksternal, di mana Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal milik Iran.

Baca juga: Pergerakan Rupiah Masih Rapuh, Peluang Tembus Rp17.500 Makin Terbuka Lebar

"Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz," kata Ibrahim.

Selain itu, ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.

"Ini berdampak terhadap penurunan produksi minyak Rusia hingga 10 persen. Sehingga ini berdampak pada harga minyak dunia, Bren maupun WTI," ujarnya.

Tercatat, saat ini harga kontrak berjangka minyak Brent untuk Juli di level 113,76 dolar AS per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di posisi 104,83 dolar AS per barel.

Jika harga minyak dunia melambung, maka kebutuhan terhadap dolar AS akan meningkat karena transaksi banyak negara masih menggunakan mata uang negeri Paman Sam.

Ibrahim menyampaikan, perang AS-Iran maupun Ukraina-Rusia akan berdampak kepada kenaikan inflasi atau harga barang di berbagai negara menjadi naik dan akhirnya Bank Sentral Amerika maupun bank sentral lainnya mendongkrak suku bunganya.

Ketika suku bunga bank sentral naik, maka bunga obligasi maupun bunga bank akan ikut terkerek.

Kondisi ini, membuat investor yang sebelumnya menaruh uang di negara berkembang seperti Indonesia, akan kembali ke negaranya seperti Amerika karena investasi lebih terjamin keamanannya. Misalnya diobligasi negara AS.

Dengan kondisi sentimen negatif yang ada, Ibrahim pun menyebut pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan bisa sentuh Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini.

Faktor Internal

Dengan melonjaknya harga minyak dunia, pemerintah pastinya membutuhkan dolar AS lebih banyak untuk membeli minyak.

Ibrahim menyampaikan, jika perang berlangsung secara jangka menengah dan panjang, bukan tidak mungkin harga minyak dunia bisa sentuh 200 dolar AS per barel sampai 250 dolar AS per barel.

"Impor minyak Indonesia, kita ketahui 1,5 juta barel. Dengan impor minyak, kita membutuhkan dolar AS yang cukup banyak. Bersamaan dengan itu, kuartal II 2026, banyak perusahaan membagikan dividen dan ini membutuhkan dolar AS cukup banyak," paparnya.

BI Intervensi Pasar

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.

Ia mencontohkan, Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile Peso melemah 4,24 persen.

"Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen," kata Erwin.

Pada perdagangan pagi hari ini, rupiah Indonesia dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan terhadap dolar AS.

Rupiah berada di level Rp17.403 per dolar AS, melemah sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.365 per dolar AS.

Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,25% ke level 3,96 per dolar AS. 

Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina yang turun 0,23% menjadi 61,707 per dolar AS.

Erwin menyampaikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. 

"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder," tuturnya.

 Transaksi NDF merupakan kontrak derivatif valuta asing berjangka di mana penyelesaian transaksi dilakukan secara tunai (netting) berdasarkan selisih kurs, tanpa pertukaran fisik mata uang pokok. NDF umumnya digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi mata uang negara berkembang yang dibatasi (tidak dapat diperdagangkan secara bebas/ non-convertible)

Sedangkan DNDF adalah instrumen derivatif valas terhadap Rupiah standar (plain vanilla) yang digunakan untuk lindung nilai (hedging) risiko nilai tukar di pasar domestik tanpa pertukaran pokok fisik. Penyelesaian dilakukan bersih (netting) dalam Rupiah berdasarkan selisih kurs kontrak dan kurs fixing pada tanggal jatuh tempo. 

Menurut Erwin, langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," paparnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved