Gejolak Rupiah
Rupiah Makin Ambruk di Atas Rp17.400 per Dolar AS, Dihantam Perang di Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.
Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah ke Rp17.428/USD dipicu konflik AS-Iran dan Ukraina-Rusia.
- Lonjakan harga minyak dorong kebutuhan dolar dan tekanan inflasi global.
- Faktor domestik seperti impor minyak dan dividen turut tekan rupiah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026) semakin terperosok hingga di atas level Rp17.400.
Mengutip data Bloomberg, sekitar pukul 10.32 WIB, rupiah sudah melemah ke posisi Rp 17.428 per dolar AS, turun 0,20 persen dibanding sehari sebelumnya.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penyebab utama pelemahan mata uang rupiah yaitu faktor eksternal, di mana Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal milik Iran.
Baca juga: Pergerakan Rupiah Masih Rapuh, Peluang Tembus Rp17.500 Makin Terbuka Lebar
"Serangan AS ke kapal Iran ini menewaskan banyak tentara Iran. Kondisi ini membuat ketegangan baru di Selat Hormuz," kata Ibrahim.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga terjadi antara Ukraina dan Rusia, di mana Ukraina melakukan pengeboman ke kilang minyak milik Rusia.
"Ini berdampak terhadap penurunan produksi minyak Rusia hingga 10 persen. Sehingga ini berdampak pada harga minyak dunia, Bren maupun WTI," ujarnya.
Tercatat, saat ini harga kontrak berjangka minyak Brent untuk Juli di level 113,76 dolar AS per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di posisi 104,83 dolar AS per barel.
Jika harga minyak dunia melambung, maka kebutuhan terhadap dolar AS akan meningkat karena transaksi banyak negara masih menggunakan mata uang negeri Paman Sam.
Ibrahim menyampaikan, perang AS-Iran maupun Ukraina-Rusia akan berdampak kepada kenaikan inflasi atau harga barang di berbagai negara menjadi naik dan akhirnya Bank Sentral Amerika maupun bank sentral lainnya mendongkrak suku bunganya.
Ketika suku bunga bank sentral naik, maka bunga obligasi maupun bunga bank akan ikut terkerek.
Kondisi ini, membuat investor yang sebelumnya menaruh uang di negara berkembang seperti Indonesia, akan kembali ke negaranya seperti Amerika karena investasi lebih terjamin keamanannya. Misalnya diobligasi negara AS.
Dengan kondisi sentimen negatif yang ada, Ibrahim pun menyebut pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan bisa sentuh Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini.
Faktor Internal
Dengan melonjaknya harga minyak dunia, pemerintah pastinya membutuhkan dolar AS lebih banyak untuk membeli minyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Nilai-Tukar-Rupiah-Terhadap-Dolar-AS_20260305_201606.jpg)