Industri AMDK Hadapi Tekanan Ganda, Pengamat Soroti Risiko Biaya Logistik dan Energi
tekanan dari sisi hulu muncul akibat gejolak geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas
Padahal, sesuai regulasi dan standar industri, sumber air AMDK dapat berasal dari mata air maupun air tanah dalam selama memenuhi ketentuan pengolahan dan pengawasan mutu.
Menurut Andreas, di tengah tekanan biaya global dan transformasi kebijakan domestik, industri membutuhkan kepastian dan sinkronisasi kebijakan agar tetap mampu menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga di masyarakat.
“Keberlanjutan industri AMDK bukan hanya soal bisnis, tetapi juga berkaitan dengan akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Diketahui kontribusi industri AMDK terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah melampaui 1 persen, tepatnya sekitar 1,04 persen.
Baca juga: DPR Soroti Dominasi Asing di Industri AMDK, Padahal Air Melimpah
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari peran strategis sektor ini dalam menopang industri makanan dan minuman—yang selama ini menjadi tulang punggung manufaktur nonmigas Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menegaskan bahwa industri AMDK memiliki posisi vital dalam ekosistem manufaktur nasional.
Selain mendorong pertumbuhan industri pengolahan, sektor ini juga menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di seluruh Indonesia.
Dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen, industri ini selama ini mencerminkan stabilitas sekaligus efisiensi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-galon-amdk-aqua.jpg)