Minggu, 10 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan, Berpotensi Sentuh Rp17.430 per Dolar AS

Ketegangan di Timur Tengah antara Amerika-Iran, serta Eropa Timur yakni Rusia-Uraina, masih menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan mata uang rupiah dan dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta. Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), rupiah  ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.359 per dolar AS. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah diprediksi pada perdagangan Senin bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.380-Rp17.430 per dolar AS.
  • Tekanan terhadap rupiah dipicu ketegangan geopolitik antara AS-Iran dan Rusia-Ukraina yang berpotensi meningkatkan inflasi global serta menahan suku bunga tinggi The Fed.
  • Dari dalam negeri, investor juga mencermati kenaikan utang pemerintah menjadi Rp9.920,42 triliun dan defisit APBN kuartal I/2026 yang mencapai Rp240,1 triliun.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada pekan besok diprediksi masih tertekan, seiring belum adanya sentimen positif.

Tercatat, pada perdagangan Jumat (8/5/2026), rupiah  ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.359 per dolar AS.

"Perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.380- Rp17.430," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dikutip Minggu (10/5/2026).

Baca juga: Rupiah Tambah Loyo, Gubernur BI Temui Prabowo, Beber 7 Jurus Penguatan

Ibrahim menjelaskan, ketegangan di Timur Tengah antara Amerika-Iran, serta Eropa Timur yakni Rusia-Uraina, masih menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

"Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan untuk kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur transit minyak dan gas utama," paparnya.

Kondisi tersebut membuat biaya pengiriman komoditas menjadi melonjak hingga akhirnya mendongkrak inflasi, dan The Fed atau Bank Sentral Amerika berpotensi menahan suku bunga acuannya.

Sedangkan di dalam negeri, investor mencermati utang pemerintah sampai dengan 31 Maret 2026 tembus Rp9.920,42 triliun. 

Posisi ini naik hampir 3 persen dari level periode sampai Desember 2025 yaitu Rp9.637,9 triliun. Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I/2026 itu setara dengan 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).  

Ia menyebut, perhitungan rasio utang terhadap PDB ini didapatkan dari membagi outstanding utang terbaru yakni Rp9.637,9 triliun, serta akumulasi PDB harga berlaku terbaru yaitu kuartal I/2026 (Rp6.187,2 triliun) dan tiga kuartal sebelumnya yang keseluruhan mencapai Rp24.341,4 triliun. 

Kemuudian, sampai dengan kuartal I/2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. 

"Pembiayaan utang pun sudah terealisasi Rp258,7 triliun atau 31,1% terhadap PDB," paparnya. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved