Harga Saham
Legislator Soroti Tantangan Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global
Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas dan jika harga energi terguncang, efeknya cepat terasa pada fiskal dan rupiah.
Ringkasan Berita:
- Kondisi pasar keuangan dan pasar modal RI menghadapi berbagai tantangan
- Penting untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa guna menghadapi dampak ekonomi
- Indonesia kerap mengalami gangguan non konvensional
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kondisi pasar keuangan dan pasar modal RI menghadapi berbagai tantangan mulai dari anjloknya nilai tukar rupiah dihadapan dolar AS dan turun tajamnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyentuh level 6.700-an usai pengumuman rebalancing terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Padahal di satu sisi Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 berhasil menorehkan catatan positif lantaran mencapai 5,61 persen. Capaian positif pertumbuhan ekonomi di angka 56,1 persen ini merupakan yang terbaik sejak 10 tahun terakhir.
Menyoal hal itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Ahmad Najib Qodratullah, menilai penting untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa guna menghadapi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat ketidakpastian global.
Baca juga: IHSG Sesi Pertama Ambles 1,81 Persen, Investor Panik Usai Pengumuman MSCI Menghantam Bursa
Menurut Najib begitu ia disapa, rasa persatuan dan kesatuan penting guna mencegah gangguan dari pihak-pihak luar yang merasa tidak senang dengan berbagai capaian positif salah satunya ialah pertumbuhan ekonomi RI.
“Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki pertumbuhan cepat. Ketika ekonomi suatu negara naik, yang diperebutkan bukan cuma pasar domestik, akses bahan mentah, jalur logistik, pengaruh politik, kontrol teknologi dan aliansi regional,” kata Najib membeberkan pandangannya, Rabu (13/5/2026).
Lebih lanjut, Najib mengungkapkan, Indonesia saat ini juga mempunyai nilai strategis karena memiliki tiga hal sekaligus.
Mulai dari populasi besar, sumber daya alam seperti nikel, batubara, sawit, hingga posisi maritim strategis mulai dari ALKI, Selat Malaka hingga jalur Indo-Pasifik.
“Jadi jika ekonomi tumbuh stabil, Indonesia makin penting dalam peta persaingan antara United States, China, dan kekuatan regional lain,” ujar Najib.
Hadapi Berbagai Bentuk Gangguan
Najib tak menampik bahwa bentuk gangguan yang paling realistis terhadap Indonesia bukanlah invasi. Najib menambahkan, bahwa Indonesia kerap mengalami gangguan non konvensional.
“Misalnya tekanan ekonomi seperti hambatan dagang, kampanye boikot komoditas, manipulasi harga komoditas ekspor hingga relokasi investasi ke negara pesaing,” jelas Najib.
“Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas. Jika harga energi terguncang, efeknya cepat terasa pada fiskal dan rupiah,” tambah Najib.
Najib pun melanjutkan, gangguan non konvensional lainnya seperti intervensi informasi baik disinformasi media sosial, pembelahan isu agama/suku, penggiringan opini anti-pemerintah dan sentimen pasar lewat rumor.
“Tujuannya bukan menjatuhkan negara secara militer, tetapi membuat keputusan ekonomi tersendat,” kata Najib.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anggota-komisi-xi-dpr-ahmad-najib-qodratullah.jpg)