Gejolak Rupiah
Rupiah Ambruk di Atas Rp17.500, Harga Bahan Pokok, Elektronik hingga Obat-obatan Melonjak
Pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang relatif langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Pelemahan rupiah di atas Rp17.500 per dolar AS diprediksi memicu kenaikan harga barang impor seperti elektronik, obat-obatan, pupuk, kedelai, dan gandum.
- Ekonom menyebut kondisi ini memicu inflasi impor, menaikkan biaya produksi industri dan berpotensi menekan daya beli masyarakat.
- Rupiah lemah juga membebani APBN lewat kenaikan subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan rupiah yang saat ini sudah di atas Rp17.500 per dolar AS, akan berdampak terhadap kenaikan harga bahan pokok hingga obat-obatan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah membuat harga barang-barang menjadi naik, terutama yang komponennya yang dipenuhi dari impor.
Ibrahim mencontohkan, harga yang sudah pasti naik yaitu barang elektronik, obat-obatan, pupuk serta komoditas pangan seperti kedelai hingga gandum.
Baca juga: Purbaya Siap Dipanggil DPR Jelaskan Nilai Tukar Rupiah yang Terus Loyo
Terdapat komponen di pupuk yang masih impor yakni jenis NPK, Kalium (KCl), dan bahan baku fosfor.
"Belum lagi harga plastik juga sudah mengalami kenaikan," papar Ibrahim dikutip, Selasa (12/4/2026).
Jika harga pupuk naik, maka produk pertanian dipastikan akan naik harganya.
Hal senada juga disampaikan, akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, yang menyampaikan, pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang relatif langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Rijadh menjelaskan dalam kajian ekonomi, fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi impor, di mana pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah.
Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi.
Meski masih memiliki stok lama, kata Rijadh, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya dikutip dari laman UGM.
Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memberi tekanan besar terhadap sejumlah pos dalam anggaran negara, terutama pada belanja yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu sektor yang paling terdampak, mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.
Disamping itu, beban utang luar negeri juga menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-belanja-di-supermarket.jpg)