Selasa, 19 Mei 2026

Saat Stok Beras Melimpah dan Impor Tak Lagi Jadi Pilihan

Indonesia saat ini telah mencapai swasembada, karena stok kebutuhan pangan utama masyarakat sudah melimpah.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews.com
Potret kondisi gunungan karung beras di Gudang Swasta yang disewa PT Perum Bulog yang berlokasi di JDP Karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis 26 April 2026. (Rizki Sandi Saputra/Tribunnews.com) 

Bukan hanya beras, komoditas lain seperti jagung dan minyak goreng kemasan Minyakita juga turut dipantau distribusi serta penjualannya.

"Bulog juga menjaga stabilisasi harga, baik mulai pembelian harga gabah di sawah, yaitu sesuai dengan Inpres Presiden yaitu Rp6.500 per kilogram, kemudian penjualan juga sesuai dengan HET yang mana beras medium adalah Rp12.500 dan beras premium adalah Rp14.900. Termasuk juga minyakita Rp15.700 dan jagung Rp5.400 per kilogram," sambung dia.

Hanya saja, upaya mendistribusikan bahan pokok termasuk Minyakita memang tidak jarang menimbulkan ironi.

Meski Rizal mengaku seluruh penugasan yang diberikan oleh pemerintah kepada Bulog sudah dilakukan secara merata, namun, masih banyak pedagang di pasar yang mengeluhkan langkanya stok Minyakita.

Kata Rizal, Bulog mendapat penugasan 35 persen terhadap penyaluran Minyakita berdasarkan Domestic Market Obligation (DMO).

MINYAKITA LANGKA DAN MAHAL - Pedagang sembako di Pasar Minggu dan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tak lagi berharap bisa jual Minyakita dengan kondisi harga yang mulai mahal dan ketersediaan stok yang langka, Kamis (14/5/2026).
MINYAKITA LANGKA DAN MAHAL - Pedagang sembako di Pasar Minggu dan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tak lagi berharap bisa jual Minyakita dengan kondisi harga yang mulai mahal dan ketersediaan stok yang langka, Kamis (14/5/2026). (Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra)

Dari data internal Bulog, seluruh pasar dipastikan oleh Rizal sudah tersalurkan dengan baik, hal itu ditandai dengan kode hijau pada salah satu aplikasi yang dimiliki pihaknya.

"Nah, di situ aplikasi minyak kita ada. Di situ sudah hijau semua, Alhamdulillah, sejak minggu yang lalu. Jadi sudah upaya Bulog yang DMO yang diberikan kepada Bulog lebih kurang 35 persen tersebut sudah tersalurkan semaksimal mungkin kepada seluruh pasar-pasar SP2KP maupun pasar-pasar tradisional," kata dia.

Akan tetapi, keluhan datang dari sejumlah pedagang sembako di kawasan Jakarta Selatan yang mengaku sudah tidak lagi berharap bisa memasarkan minyak goreng kemasan Minyakita di tokonya.

Keluhan itu diutarakan oleh Tinah (50), seorang pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang menyatakan betapa sulitnya kini menjual Minyakita karena harganya yang mulai tinggi serta stok yang langka.

Dengan raut muka cueknya, Tinah mengutarakan kalau dirinya sudah enggan menjual minyak goreng tersebut.

"Minyakita kan ya sebagian sih memang masih banyak (pembeli) nyariin, tapi pedagang sudah enggak mau jual. Sebagian sudah mahal, mendingan minyak yang bagus sekalian," kata Tinah kepada Tribunnewscom saat ditemui di toko dagangannya, Kamis (14/5/2026).

Atas kondisi yang dialaminya itu, Tina akhirnya lebih memilih untuk menjual minyak goreng yang lebih premium namun harga jualnya tidak jauh berbeda dibandingkan Minyakita.

Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lainnya bernama Mukhlisin. Kata dia, ketersediaan Minyakita di toko miliknya sudah mulai kosong bahkan sejak 2 bulan lalu.

Kata dia, usai lebaran Idulfitri 1447 kemarin, tidak ada lagi minyak goreng merek Minyakita yang dijual di tokonya.

"Iya, betul juga itu ya. Langka. Sesudah habis Lebaran nih, sudah susah. Kosong banget" ujar Muklisin.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved