Kamis, 21 Mei 2026

Program Hilirisasi Tebu Jadi Upaya Indonesia Lepas dari Ketergantungan Asing

Kualitas benih jadi titik awal keberhasilan hilirisasi tebu. Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan sistem benih berjenjang

Tayang:
Penulis: Sanusi
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/HO
Keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Petani dan pelaku usaha perkebunan harus menjalankan budidaya sesuai standar agar produktivitas dan rendemen tebu meningkat. 

Dalam konteks itu, pembangunan KBD dan swasembada gula dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun kembali kekuatan ekonomi berbasis rakyat. Menurut Nandang, hilirisasi tebu memiliki karakter berbeda karena manfaat ekonominya langsung menyentuh masyarakat desa dan perkebunan rakyat.

“Hilirisasi itu ditebar, yang menangkap adalah perkebunan rakyat. Artinya uangnya akan diterima rakyat, hasilnya diterima rakyat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 triliun khusus untuk program pembibitan dan hilirisasi tebu. Nilai tersebut disebut sebagai salah satu investasi terbesar pemerintah di sektor perbenihan tebu dalam sejarah modern pertanian Indonesia.

Selain mendukung swasembada gula, program tersebut juga diproyeksikan memperkuat ekonomi desa dan mempersempit ketimpangan sosial. Nandang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan terjadinya peningkatan kelompok masyarakat miskin dan penurunan kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini harus menjadi pondasi ekonomi desa. Untuk mempersempit kesenjangan pendapatan,” katanya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Petani dan pelaku usaha perkebunan harus menjalankan budidaya sesuai standar agar produktivitas dan rendemen tebu meningkat.

“Jangan hanya benih awalnya saja bagus, tapi praktik budidayanya tidak benar. Ikuti kaidah bercocok tanam yang baik supaya produktivitas tinggi dan rendemennya tinggi,” ujarnya.

Nandang menyebut produktivitas tebu di sejumlah wilayah sebenarnya memiliki potensi untuk ditingkatkan hingga 100 ton per hektare apabila dikelola secara optimal. Dengan dukungan bibit unggul dan pengelolaan yang baik, sektor tebu dinilai mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan.

Ia juga menegaskan pentingnya pendampingan teknis bagi petani baru, termasuk melalui bimbingan teknis bersama pabrik gula dan pemerintah daerah. Di Sumedang, misalnya, pemerintah saat ini tengah memetakan sekitar 500 hektare lahan potensial untuk pengembangan tebu setelah melalui proses pemetaan dan penapisan lahan berbasis teknologi drone.

Ke depan, pemerintah berharap hilirisasi tebu tidak hanya memperkuat produksi gula nasional, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju industrialisasi berbasis sumber daya domestik. Jika pembangunan sektor tebu berjalan konsisten, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian pangan sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap negara lain.

 


kredit foto: HO
kepsyen: Keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Petani dan pelaku usaha perkebunan harus menjalankan budidaya sesuai standar agar produktivitas dan rendemen tebu meningkat.
 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved