Selasa, 19 Mei 2026

Rupiah Melemah, Harga Mobil dan Elektronik Diprediksi Naik di Semester II 2026

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menekan sejumlah sektor industri seperti industri otomotif, elektronik, petrokimia hingga farmasi.

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
PAMERAN OTOMOTIF - Pengunjung mengamati interior mobil yang dipamerkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2025 di Sudirman Grand Ballroom, Kota Bandung, Rabu (1/10/2025). Produk elektronik dan otomotif diperkirakan akan naik harga di semester II 2026 karena lonjakan biaya produksi karena pelemahan rupiah. 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menekan sejumlah sektor industri seperti industri otomotif, elektronik, petrokimia hingga farmasi.
  • Produk elektronik dan otomotif diperkirakan akan naik harga di semester II 2026 karena tingginya ketergantungan terhadap komponen impor.
  • Industri berbasis impor seperti petrokimia, plastik, farmasi dan bahan kimia mengalami lonjakan biaya produksi karena naiknya harga bahan baku impor.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan besar terhadap sejumlah sektor industri seperti industri otomotif, elektronik, petrokimia hingga farmasi.

Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik global, lonjakan harga minyak dunia dan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah sangat dirasakan industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.

"Dampak pelemahan rupiah ini terutama terhadap industri manufaktur itu kelihatan sekali," kata Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).

Produk elektronik dan otomotif diperkirakan akan naik harga di semester II 2026 karena tingginya ketergantungan terhadap komponen impor.

"Elektronik itu barang-barangnya impor. Kemudian otomotif itu pun juga impor, seperti chip, suku cadang, mesin, mereka itu dari impor," ujarnya.

Ibrahim memperkirakan kenaikan harga produk elektronik seperti telepon genggam dan laptop mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.

"Nanti di semester kedua itu akan ketahuan. Akan ketahuan harga mobil itu pasti akan naik, harga otomotif juga akan naik, elektronik akan naik. Kita yang biasanya HP kemudian laptop kemungkinan nanti memasuki semester kedua itu akan kelihatan naiknya," imbuhnya.

Industri Berbasis Impor Kena Dampak

Menurut Ibrahim, industri berbasis impor seperti petrokimia, plastik, farmasi dan bahan kimia menjadi sektor yang paling terdampak pelemahan rupiah yang memicu lonjakan biaya produksi.

"Kita melihat bahwa di awal-awal melemahnya mata uang rupiah kita diributkan tentang kenaikan harga plastik 70-100 persen. Jadi yang paling tersengat kenaikannya itu adalah industri manufaktur dan bahan baku impor," terangnya.

Ia menyebut kenaikan biaya produksi di sektor petrokimia, pupuk dan plastik mencapai hampir 70 persen. Sementara sektor farmasi mengalami lonjakan biaya hingga 80-90 persen. industri di sektor makanan dan minuman siap saji juga ikut terdampak.

Sektor Transportasi Ikut Terdampak 

Selain manufaktur, Ibrahim menilai sektor energi dan transportasi juga akan menerima dampak besar akibat pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia.

"Walaupun BBM bersubsidi tidak dinaikkan tapi ini luar biasa karena BBM bersubsidi itu disubsidi hampir 85 persen oleh pemerintah," ucap Ibrahim.

Harga Energi Naik

Kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan produk di atasnya akan memengaruhi biaya impor migas dan berimbas ke berbagai sektor lain, termasuk kelistrikan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved