Rabu, 10 Juni 2026

BI Rate Naik, Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp 17.944 per Dolar AS

rupiah ditutup menguat 114 poin atau sekitar 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dolar AS

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Jumat (5/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan BI Rate mendapat sambutan positif dari pelaku pasar karena menunjukkan komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
  • Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah berbagai situasi yang terjadi saat ini, rupiah ditutup menguat 114 poin atau sekitar 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 18.058 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Baca juga: Rupiah Tertekan dan IHSG Anjlok, PKS Serukan Gotong Royong Kawal Ekonomi Pemerintahan Prabowo

Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah yang sebelumnya sempat tertekan hingga menyentuh rekor terendah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan BI Rate mendapat sambutan positif dari pelaku pasar karena menunjukkan komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

"Pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 bp menjadi 5,5 persen pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah," tutur Ibrahim melalui keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).

Kenaikan suku bunga juga berpotensi meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik, termasuk obligasi pemerintah bertenor 10 tahun yang menawarkan imbal hasil sekitar 7,4 persen.

Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong masuknya kembali dana investor asing maupun domestik ke pasar Surat Utang Negara (SUN).

Sentimen positif lainnya datang dari komitmen Danantara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memastikan tidak mengambil margin keuntungan atas ekspor komoditas strategis serta tetap menghormati kontrak-kontrak yang telah berjalan.

Ibrahim menilai kehadiran DSI sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis bertujuan memperkuat tata kelola, meningkatkan kepastian hukum dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu aktivitas pelaku usaha. 

"Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi," jelas Ibrahim.

Meski demikian, pasar masih dibayangi risiko eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target Iran menyusul insiden jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Sebagai respons, Iran dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dan sejumlah negara Teluk.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. 

Harga minyak yang naik sekitar 1 persen juga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan meningkat menjadi 4,2 persen pada Mei.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Pada perdagangan 11 Juni 2026, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif, namun berpeluang kembali menguat di kisaran Rp 17.900 - Rp 18.050 per dolar AS.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved