Ibadah Haji 2026
Mengenal Disorientasi pada Jemaah Haji: Ciri-ciri dan Pertolongan Pertamanya
Berikut tanda-tanda jemaah haji yang mengalami disorientasi, termasuk bingung terhadap lokasi atau arah tujuan.
Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Cuaca ekstrem, kelelahan fisik, hingga perubahan lingkungan menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji, khususnya lanjut usia (lansia).
Kondisi tersebut dapat memicu munculnya disorientasi akut, yakni gangguan kebingungan terhadap waktu, tempat, maupun orang di sekitar.
Dokter spesialis kesehatan jiwa yang bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Rismayanti SpKJ menjelaskan, disorientasi akut kerap ditemukan pada jemaah lansia yang baru tiba di Makkah.
"Adanya perubahan lingkungan atau suasana, kepadatan jemaah saat melakukan ibadah, kelelahan fisik, serta kurangnya cairan tubuh dapat menjadi faktor yang memicu disorientasi akut," ujar dr Rismayanti kepada tim Media Center Haji (MCH), Kamis (15/5/2026).
Menurutnya, suhu di Makkah pada siang hari dapat mencapai 43 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat jemaah lansia lebih rentan mengalami kelelahan dan kebingungan.
Ia menjelaskan, tanda-tanda awal disorientasi dapat dikenali dari perilaku jemaah lansia:
Berikut tanda-tanda jemaah haji yang mengalami disorientasi:
- Bingung terhadap lokasi atau arah tujuan
- Mondar-mandir tanpa tujuan jelas
- Tidak mengenali waktu atau situasi sekitar
- Kesulitan mengenali orang di sekitarnya
- Tampak linglung setelah aktivitas ibadah
- Lupa makan, minum, atau kebutuhan dasar lainnya
- Disorientasi waktu, tempat, dan orang
Baca juga: Kemenhaj: Biaya Dam Haji Jemaah Indonesia 720 Riyal, Lebih dari 34 Ribu Jemaah Sudah Bayar
Pertolongan Pertama yang Bisa Dilakukan
Menurut dr. Ismayanti, langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah reorientasi, yakni membantu jemaah kembali mengenali kondisi sekitarnya.
"Jadi kita kembali mengingatkan, lokasi kita saat ini berada di mana, tujuan kita berada di sini, nama bapak siapa," ujarnya.
Kemudian, jemaah juga perlu segera mendapatkan rehidrasi untuk mencegah kekurangan cairan tubuh.
Rehidrasi bisa dilakukan dengan pemberian oralit maupun cairan infus sesuai kondisi pasien.
Petugas kesehatan juga akan memeriksa apakah disorientasi dipicu oleh penyakit lain seperti diabetes atau gangguan jantung.
"Tim medis harus melihat apakah disorientasi ini berhubungan dengan kondisi organik atau bukan, sehingga penanganannya bisa tepat dan cepat," jelasnya.
Selain penanganan medis, tim kesehatan juga dapat mengedepankan pendekatan preventif dan humanis dalam menangani jemaah yang mengalami disorientasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jemaah-haji-dari-Jakarta-Bantener.jpg)