Jumat, 22 Mei 2026

Obama minta waktu, Romney menjual harapan

Persoalan ekonomi diyakini menjadi alasan terbesar mengapa calon presiden kubu Republik Mitt Romney mendapat dukungan besar dan bersaing ketat dengan Presiden Obama.

Tayang:

Jam menunjukkan hampir pukul 19.00. Namun di Restoran Yang di South Michigan Avenue, Chicago, kursi-kursi untuk pelanggan sebagian besar kosong.

Hanya beberapa anak muda yang menyantap makan malam.

Padahal ini adalah salah satu tempat makan terbaik yang direkomendasikan oleh koran Chicago Tribune.

Yang ramai adalah pelanggan yang memesan makanan untuk dibawa pulang, biasa disebut take away.

''Kami cukup sibuk petang ini, namun untuk yang makan di sini memang tidak sebanyak dulu,'' ungkap Anne, yang bertugas menerima pesanan melalui telepon.

Kosongnya kursi-kursi di restoran bisa menggambarkan lesunya perekonomian Amerika Serikat.

Sejak dihantam krisis keuangan besar pada 2007, AS belum pulih. Ekonomi berangsur-angsur membaik, namun dengan laju pemulihan yang tidak secepat keinginan banyak orang.

Pengamat politik dari Ohio State University, Djayadi Hanan, mengatakan situasi ini dimanfaatkan calon presiden dari Republik, Mitt Romney, yang mengklaim memiliki pengalaman ekonomi dan bisnis yang lebih baik dari Barak Obama, presiden AS saat ini dari kubu Demokrat.

Sebelum terjun di panggung politik Romney dikenal sebagai pengusaha sukses.

Mencari pilihan lain

''Pada saat yang sama banyak pemilih yang dulu mencoblos Obama kecewa dengan kinerja pemerintah. Para pemilih ini sekarang mencari alternatif,'' kata Hanan.

''Romney berhasil meyakinkan banyak orang bahwa ia lebih baik dari Obama untuk urusan ekonomi. Dan dukungannya makin besar, terutama setelah debat pertama awal Oktober lalu di mana ia tampil meyakinkan,'' imbuh Hanan.

Mungkin dalam situasi sulit seperti ini pemilih putus asa dan condong ke calon yang dianggap bisa memberikan harapan.

''Padahal kebijakan ekonomi Romney sebenarnya sulit diterima. Dalam arti tidak menjawab sepenuhnya persoalan AS,'' kata Jeffrey Winters, pengamat ekonomi politik dari Universitas Northwestern di Chicago.

''Misalnya Romney tidak setuju dengan beban pajak yang besar untuk orang-orang kaya. Menurut Romney, kalau beban pajak bagi kelas atas tidak terlalu besar, maka mereka akan lebih banyak berinvestasi.''

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved