Jepang Diminta Jujur Soal Sejarah Budak Seks Jugun Ianfu
Isinya agar 'Negeri Matahari Terbit' itu berhenti melakukan manipulasi, sensor, dan intimidasi terhadap sejarawan yang menulis Perang Dunia II.
TRIBUNNEWS.COM - Lebih dari 180 sejarawan dari berbagai negara mengeluarkan surat terbuka kepada pemerintah Jepang.
Isinya agar 'Negeri Matahari Terbit' itu berhenti melakukan manipulasi, sensor, dan intimidasi terhadap sejarawan yang menulis Perang Dunia II.
Sebagian besar berasal dari perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Ada pula sejarawan Inggris dan Eropa.
Mereka terdorong menulis surat terbuka setelah muncul kontroversi secara terus-menerus tentang perempuan penghibur atau dikenal dengan nama jugun ianfu yang bekerja di rumah bordil militer Jepang di masa perang.
Persoalan itu telah menjadi batu sandungan dalam hubungan Jepang dengan sejumlah negara tetangga.
Jumlah perempuan penghibur untuk tentara Jepang tidak diketahui pasti tetapi diperkirakan mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu.
Mereka berasal dari China, Korea dan negara-negara lain yang dijajah Jepang, termasuk Indonesia.
Seperti dilaporkan oleh wartawan BBC Nick Higham, perempuan penghibur untuk tentara Jepang sering disebut sebagai budak seks.
Pemerintah Jepang dituduh berusaha menutup-nutupi fakta sejarah, antara lain ditunjukkan dengan tindakan konsul Jepang di Amerika Serikat Desember lalu.
Ia meminta penerbit McGraw-Hill untuk mengubah beberapa paragraf di dalam buku yang menyebutkan bahwa militer Jepang merekrut paksa perempuan-perempuan muda.
Disebutkan pula militer Jepang "membunuh massal mereka untuk menutup-nutupi operasi itu." (BBC)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jugun-ianfu_20141110_20141110_154620.jpg)