Iran Vs Amerika Memanas
China dan Pakistan Jadi Penentu Damai di Tengah Krisis Iran-AS-Israel
China dan Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator dalam meredakan konflik antara Iran, AS, dan Israel.
Ringkasan Berita:
- China dan Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator dalam meredakan konflik antara Iran, AS, dan Israel.
- Pakistan memanfaatkan posisi diplomatiknya yang unik, sementara China bertindak untuk melindungi kepentingan energi dan geopolitiknya.
- Gencatan senjata yang tercapai masih rapuh dan bergantung pada dukungan internasional untuk menjadi perdamaian permanen.
TRIBUNNEWS.COM - Sekelompok negara yang bersikap tegas — tiga di antaranya berhasil menarik situasi dari ambang krisis geopolitik di detik-detik terakhir.
Ketika Israel, Iran, dan United States berada di ambang eskalasi perang yang berbahaya, China dan Pakistan — dengan motif yang sangat berbeda — muncul sebagai mediator yang tak terduga namun efektif.
Dilansir USA Today, tanggal 7 April dimulai dengan Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman yang menuai kritik luas untuk menghancurkan “seluruh peradaban” Iran jika tidak menghentikan perang yang melibatkan Israel dan AS. Hari itu berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Iran, Israel, dan AS, serta pembukaan kembali Strait of Hormuz.
Pakistan sendiri tengah terlibat konflik dengan Afghanistan, namun tetap berupaya meredakan ketegangan di perbatasannya dengan Iran. Sementara itu, China tidak memiliki kehadiran militer di Timur Tengah, tetapi melihat leverage ekonomi terhadap AS sebagai prioritas utama. Putaran pertama negosiasi AS-Iran terkait rencana damai 10 poin dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 10 April.
China dan Pakistan: Mediator yang Tak Terduga?
Pejabat China selama beberapa minggu mendorong Pakistan untuk terlebih dahulu menyelesaikan konflik dengan Afghanistan sebelum menjadi mediator di Iran. Kedua negara saling menuduh melindungi kelompok militan.
Analis Joyce Karam dari Al-Monitor menyebut bahwa China sebenarnya tidak terburu-buru mengakhiri perang. Menurutnya, Beijing justru melihat keuntungan geopolitik saat AS terjebak lebih dalam dalam konflik Iran.
Namun ada faktor lain yang berperan.
Mantan penasihat keamanan nasional Pakistan, Moeed Yusuf, mengatakan hubungan Pakistan dan Iran didasari sejarah panjang, budaya, dan agama. Iran adalah negara pertama yang mengakui Pakistan pada 1947, dan kedua negara berbagi perbatasan sepanjang lebih dari 800 km.
“Pakistan berada pada posisi unik,” ujarnya.
Menurut Yusuf, Pakistan memiliki akses langsung ke Trump, hubungan kuat dengan China, serta relasi baik dengan negara-negara Teluk — kombinasi yang menjadikannya mediator efektif.
Analis Asia Selatan Michael Kugelman menyebut keberhasilan ini sebagai salah satu pencapaian diplomatik terbesar Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: 90 Menit Menegangkan Jelang Gencatan Senjata, Ternyata China yang Jadi Penentu Damai Amerika-Iran
Peran China dalam Mengakhiri Konflik
Menurut Robert Muggah dari SecDev Group dan Igarapé Institute, keterlibatan China didorong oleh kepentingan energi.
China sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk dan jalur Strait of Hormuz. Pada 2025, sekitar 13 persen impor minyak laut China berasal dari Iran, mencakup sekitar 80% ekspor minyak Iran.