Tragedi Kemanusiaan Rohingya
Warga Rohingya di Mata Masyarakat Myanmar
Kebanyakan orang Myanmar memandang peliputan media internasional berpihak, terlalu condong ke Rohingya
Editor:
Malvyandie Haryadi
Permusuhan terhadap kaum Rohingya bukanlah hal baru di Myanmar, namun lahir dari prasangka yang sudah lama terhadap kelompok minoritas itu, yang tidak dianggap sebagai warga Myanmar.
Kelompok Rohingya, yang bahasanya begitu berbeda dengan bahasa lain di negara bagian Rakhine, tidak dianggap salah satu dari 135 kelompok etnis resmi di Myanmar.
Kelompok nasionalis menghembus-hembuskan desas-desus bahwa Muslim Rohingya adalah ancaman, antara lain dengan karena pria Muslim berhak memiliki empat istri dan banyak anak.
Banyak yang berada di Rakhine takut mereka akan mengambil alih lahan mereka suatu hari karena populasi mereka terus bertambah.
Sikap bermusuhan dengan cepat terlihat saat kita berbicara dengan warga biasa.
"Mereka tidak berpendidikan dan tidak memiliki pekerjaan. Mereka bikin banyak anak," seorang perempuan di usia 30-an mengatakan hal itu kepada saya di jalanan.
"Jika tetanggamu punya banyak anak dan membuat keributan di sebelah, akankah kamu menyukainya?"
"Saya kira orang-orang itu bermasalah. Mereka jelek. Saya tidak suka mereka," kata perempuan lain, seorang pekerja rumah tangga.
Namun dia menambahkan bahwa, "Kita tidak dapat bertepuk hanya dengan satu telapak tangan," yang berarti dia sadar bahwa ada dua sisi dari sebuah cerita.
Tentu saja masih ada sebagian yang simpati dengan keadaan Rohingya, meski mereka dianggap kurang vokal.
"Saya kira banyak Muslim Bengali yang terbunuh," kata seorang supir taksi.
"Saya kira banyak yang dibunuh pasukan pemerintah karena sebagian lokasi mereka terisolasi. Saya pikir PBB seharusnya dilibatkan."
Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Bagaimana Orang Myanmar Memandang Warga Rohingya?