Kamis, 9 April 2026

Sepuluh pertanyaan untuk memahami konflik Suriah

Perang saudara yang mengguncang Suriah sejak 2001 menjadi semakin rumit. Inilah 10 pertanyaan yang dapat membantu Anda memahami konflik di negara

Sekitar 400.000 warga sipil masih terperangkap dalam kantung yang dikuasasi pemberontak di Ghouta timur, di dekat ibu kota Suriah, Damaskus.

Pengeboman masih berlanjut walaupun ada pengumuman penghentian sementara pertempuran agar warga sipil bisa keluar.

Perang sipil yang terjadi sejak 2011 menewaskan lebih dari 470.000 orang menurut lembaga swadaya masyarakat Pusat Penelitian Kebijakan, Syrian Center for Policy Research (SCPR).

Dalam beberapa minggu terakhir saja, korban meninggal di Ghouta mencapai 719 orang, menurut SCPR.

Badan pengungsi PBB, UNHCR mengatakan lima juta orang melarikan diri dari Suriah.

warga di Ghouta Timur
AFP
Lebih dari 400.000 warga di Ghouta Timur terperangkap.

Sepuluh pertanyaan di bawah akan membantu pemahanan tentang konflik Suriah.

1. Apa yang terjadi di Ghouta Timur?

Pada bulan Februari, pemerintah Suriah dan sekutu mereka meningkatkan serangan militer terhadap daerah yang dikuasasi pemberontak termasuk Ghouta Timur, yang diduduki penentang Presiden Bashar al-Assad sejak 2012.

Daerah ini digempur terus dan dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang dalam beberapa minggu terakhir. PBB memperkirakan 76% rumah penduduk di Ghouta Timur hancur. Mayoritas 400.000 warga saat ini berlindung di perlindungan bawah tanah.

Gedung hancur di Ghouta Timur.
EPA
76% perumahan penduduk di Ghouta Timur hancur.

Pasukan pemerintah dituduh menggunakan senjata kimia dalam serangan itu. Pada akhir Februari lalu, seorang anak dan 13 orang mengalami kesulitan pernafasan, gejala yang dikaitkan dengan gas klorin.

Para pejabat pemerintah menyanggah tuduhan itu. Ini bukan yang pertama. Pada Agustus 2013, badan intelijen barat menuduh Damaskus menggunakan gas sarin untuk menyerang Ghouta yang diduga menewaskan "ratusan orang."

Assad menyanggah klaim itu dan menyalahkan pemberontak berada di balik serangan itu. Namun Assad setuju untuk menghancurkan senjata kimia Suriah. Tetapi di tengah janji itu, badan yang melarang senjata kimia, Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), melaporkan insiden senjata kimia di Suriah.

Ghouta Timur menghadapi krisis kemanusiaan. Bantuan mulai tiba di daerah itu pada tanggal 15 Maret dan harga makanan termasuk beras dan roti meningkat tajam.

Kekurangan gizi pada anak mencapai angka hampir 12%, anak-anak balita.

2. Bagaimana reaksi internasional?

Pada tanggal 24 Februari, PBB menyepakati gencatan senjata 30hari di Ghouta Timur, namun gagal tak lama kemudian. Tekanan internasional yang dipimpin Rusia, sekutu dekat Assad, mengumumkan "penghentian pengeboman dengan alasan kemanusiaan" namun Ghouta tetap dihujani bom.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved