Jumat, 1 Mei 2026

Investigasi BBC: Bocah-bocah Rohingya dijual untuk prostitusi

Jaringan perdagangan manusia memanfaatkan krisis Rohingya untuk memperdagangkan sejumlah bocah perempuan berusia pra-remaja di beberapa kamp

Tayang:

Ketika sopir menerima uang, polisi langsung bergerak. Sang sopir ditangkap, kemudian pakar penanganan anak dan perdagangan manusia datang membantu dua gadis yang diantarkan.

Salah seorang gadis menolak dibawa ke tempat penampungan sosial, sedang seorang lainnya, yang mengaku berusia 15 tahun, dibawa ke sana.

Kedua gadis itu tampak bimbang antara kemiskinan dan prostitusi. Mereka mengaku tanpa prostitusi mereka tidak bisa mendapat kebutuhan hidup bagi diri sendiri dan keluarga.

Memindahkan perempuan dewasa dan anak-anak baik di dalam negeri maupun secara internasional memerlukan jaringan. Internet merupakan alat berkomunikasi antara para anggota jaringan kejahatan perdagan manusia.

Kami menemukan bukti anak-anak Rohingya dibawa ke Chittagong dan Dhaka di Bangladesh, Kathmandu di Nepal, dan Kolkata di India.

Di industri prostitusi Kolkata, anak-anak itu diberikan KTP India dan masuk ke dalam sistem. Identitas asli mereka seketika musnah.

Saat berada di Unit Kejahatan Siber di Dhaka, kepolisian setempat menjelaskan bagaimana para pelaku perdagangan manusia menjual gadis-gadis melalui internet. Grup-grup di Facebook, dari yang terbuka untuk siapa saja hingga yang tertutup, menjadi pintu gerbang ke industri seks anak-anak.

Kami lantas diperlihatkan platform yang digunakan para paedofil berbagi informasi di jaringan internet yang tersembunyi melalui aneka kode. Informasi yang dibagikan, utamanya, adalah pengalaman berhubungan seks dengan anak-anak di seluruh dunia.

Seorang pengguna platform menawarkan panduan untuk mengambil kesempatan di tengah krisis pengungsi, khususnya Rohingya. Dia berbagi informasi tentang cara terbaik menghindari pelacakan, memanfaatkan celah aparat keamanan, dan lokasi terbaik memangsa anak-anak.

Meski deretan tulisan tersebut kemudian dihapus aparat, kami mendapat wawasan mengerikan bahwa krisis pengungsi ternyata menjadi lahan kesempatan bagi para paedofil dan pelaku perdagangan manusia.

Hingga kini jaringan pedagang manusia, mucikari, makelar, dan penyedia jasa transportasi prostitusi tersedia secara online dan offline di Bangladesh. Mereka terus memasok perempuan dewasa dan anak-anak untuk bisnis prostitusi.

Krisis Rohingya tidak menciptakan industri seks di Bangladesh, tapi konflik itu meningkatkan pasokan perempuan dewasa dan anak-anak sehingga harga seorang gadis menjadi rendah dan pada saat bersamaan menguatkan permintaan pasar.

Nama-nama dalam artikel ini telah diubah untuk melindungi identitas narasumber.

Artikel ini merupakan karya:

Produser investigasi : Sam Piranty

Konsultan investigasi : Glenn Devitt

Juru kamera: Nick Woolley

Presenter : Mishal Husain

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved