Perjuangan para keluarga melawan debu beracun yang berasal dari pabrik baja di Italia
Sebuah pabrik baja di Italia berupaya menerapkan langkah-langkah pencegahan demi keberlangsungan lingkungan, tapi warga mengatakan aksi mereka
Seorang ibu sedang menggendong bayinya. Dari mata sang ibu terpancar kasih sayang, namun payudaranya berubah menjadi cerobong asap dan yang keluar bukan ASI tapi asap beracun.
Lukisan ini adalah karya Carla Lucarelli yang diciptakannya setelah putranya, Giorgio, meninggal dunia pada usia 15 tahun.
Cerobong asap itu, menurut Carla, merupakan perlambang cerobong Ilva—pabrik baja terbesar di Eropa yang terletak di Taranto, kota pesisir bagian selatan Italia.
- Kebakaran hutan: Denda belasan triliun rupiah, pemerintah baru terima Rp400 miliar dari perusahaan pembakar lahan
- Polusi udara Palangkaraya tembus 20 kali lipat batas normal
- Kabut asap pekat kembali selimuti Palangkaraya, warga 'takut kanker paru-paru'
"Kami hidup di sebelah pabrik kanker," ujarnya.
Lukisan-lukisannya bukan hanya cara menyalurkan dukanya, melainkan juga bentuk protes terhadap pabrik tersebut, terhadap pemerintah yang mengizinkannya beroperasi, dan terhadap pemiliknya, ArcelorMittal—produsen baja terbesar di dunia.
Tiga tahun lalu, Giorgio didiagnosa mengidap jenis kanker yang langka.
"Mereka tidak akan pernah mengatakan bahwa penyakit itu disebabkan polusi," kata Carla merujuk para dokter di rumah sakit.
Namun, setelah mengetahui bahwa Giorgio dibesarkan di Taranto, lanjut Carla, pandangan mata mereka "membuat saya paham semuanya".
Sejak 1970-an, kajian sains telah mengaitkan emisi dari pabrik baja Ilva, yang didirikan pemerintah, dengan masalah-masalah kesehatan yang dialami penduduk setempat.
Salah satu laporan terkini dan komprehensif diterbitkan kelompok peneliti epidemiologi, Sentieri. Mereka menemukan bahwa antara 2005 dan 2012, terdapat lebih dari 3.000 kematian yang terkait langsung dengan "paparan lingkungan terbatas" terhadap polutan.
Untuk jenis kanker tertentu, jumlah pengidap di Taranto lebih tinggi 70% dari rata-rata kawasan sekitar. Penyakit pernapasan, jantung, dan ginjal juga melampaui rata-rata kawasan sekitar. Bahkan, anak-anak dilaporkan punya peluang lebih besar lahir dengan disabilitas.
"Kami selalu terpapar," cetus Celeste Fortunato, ibu dari bocah laki-laki berusia enam tahun.
Sekolah anaknya berada tepat di samping pabrik baja, terpisah "bukit ekologi"—penghalang alami yang berperan membentengi warga setempat dari debu beracun. Akan tetapi, tahun lalu diketahui bahwa bukit tersebut dibuat dari limbah beracun pabrik.
Sekolah tempat putra Celeste belajar, dan sekolah lainnya yang terletak berjajar, dipandang tidak aman oleh wali kota sehingga dia memutuskan untuk menutupnya pada Maret lalu. Akibatnya, sebanyak 700 murid harus pergi ke sekolah yang lebih jauh dan belajar bergiliran karena jumlah mereka terlalu banyak. Kesehatan mereka juga mesti diperiksa secara reguler.