Perjuangan Anak-anak Petani di India Setelah Ditinggal Bunuh Diri
Di India hampir 60.000 kasus bunuh diri terjadi di kalangan petani. Mereka gagal panen dan tidak bisa membayar utang. Anak-anak mereka…
Renu mengatakan bahwa uang sangat sulit didapat sepeninggal ayahnya. Untuk satu hari kerja dia hanya mendapat Rp 20.000. Ibunya, Mangala, terpaksa meminjam Rp 10 juta dari keluarga besarnya untuk menikahkan putrinya yang lebih tua pada tahun 2018. Sejak saat itu, panen telah gagal selama dua tahun berturut-turut karena curah hujan yang tidak menentu. Keadaan ini memaksa Mangala untuk membuat pilihan sulit.
"Saya benar-benar ingin anak perempuan saya terus belajar. Tetapi saya harus berjuang untuk membayar kembali utang dan karenanya, saya harus memberi tahu Renu untuk datang membantu saya alih-alih belajar," kata Mangala.
Tunjangan kesejahteraan dinilai tidak teratur dan tidak layak
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tunjangan yang tersedia seringnya tidak mencapai penerima yang berhak. Tahun lalu, sebuah kelompok payung organisasi petani, MAKAAM (Forum Hak-Hak Petani Perempuan) menemukan bahwa hanya 12 persen anak-anak yang mendapat manfaat dari konsesi pemerintah atas biaya yang ditawarkan hingga tahun ke-12 sekolah. Sementara 24 persen mendapat bantuan alat tulis bersubsidi. Bantuan memang ada, namun bantuan kesejahteraan dari pemerintah tersebut sering kali datang tidak teratur dan jumlahnya sedikit.
Buddhamala Javanje, 49, akhirnya berhenti mengandalkan pensiun bulanan dari pemerintah sebesar € 7,50 (Rp 116.300) untuk janda petani yang telah bunuh diri.
"(Bantuan) itu sangat tidak menentu - kadang-kadang, kita mendapatkannya sekali dalam dua bulan, lain waktu bisa sekali dalam tiga bulan," katanya di rumahnya di desa Bandipohra di distrik Amravati.
Suami Javanje, Ramrao, gantung diri dari langit-langit rumah mereka yang berdinding lumpur 10 tahun lalu karena tidak bisa membayar utang. Dia meninggalkan Javanje dan dua anaknya - Akshay, yang saat itu baru berusia 10 tahun, dan Priyanka, yang berusia 12 tahun. Javanje bahkan tidak tahu berapa banyak hutang keluarganya.
Para janda ini sering kesulitan mendapatkan bagian atas hak mereka pada aset keluarga besar. Keluarganya memiliki tanah pertanian seluas 2,5 hektare. Namun segera setelah kematian Ramrao, ayahnya menjual tanah itu, dan menolak memberikan bagian Javanje. "Dia malah menawarkan untuk membiayai pernikahan putri saya," katanya.
Penghasilannya yang hanya sedikit lebih besar dari Rp 20.000 per hari sebagai buruh tani hampir tidak cukup. Jadi Javanje meminta putrinya Priyanka untuk keluar dari sekolah setelah kelas 8, sementara putranya terus belajar.
Tetapi Priyanka menderita penyakit misterius - Javanje masih tidak tahu penyakit apa - dan meninggal beberapa bulan kemudian. Keluarga kehilangan pencari nafkah dan dibebani dengan utang biaya perawatan sebesar hampir Rp 5 juta. Saat itulah Javanje memutuskan bahwa Akshay harus juga berhenti sekolah.
'Saya ingin tamatkan pendidikan'
"Saya lumayan pandai (di sekolah). Saya ingin menyelesaikan pendidikan dan pergi ke kota sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik," ujar Akshay. Tetapi dengan terhentinya pendidikannya, Akshay tidak lagi bisa mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Ia malah bekerja menjadi buruh tani yang upahnya berkisar € 1,90 - € 2,50 (Rp 29.500 hingga Rp 38.700) per hari.
Tetapi ini juga bukan berarti ia dapat pekerjaan setiap harinya. Akshay dan ibunya hanya bekerja dua kali seminggu. Pekerjaan jadi semakin jarang setiap kali terjadi kegagalan panen besar karena kekeringan atau hujan lebat.
"Jika orang tidak mendapat untung dari hasil panen mereka, bagaimana mereka bisa mempekerjakan kami?" ujar Javanje.
Kepala pemerintah daerah Amravati, Shailesh Nawal, mengatakan pemerintah masih mencari cara untuk meningkatkan implementasi skema bantuan yang ada. "Kami sedang menyiapkan mekanisme umpan balik seperti saluran telepon bantuan, yang bisa menjadi sarana bagi para keluarga untuk menghubungi dan memberi tahu kami jika skema kami tidak menjangkau mereka."
Namun untuk anak-anak muda seperti Akshay dan Renu, lingkaran kemiskinan seperti tidak berkesudahan. Seringkali tidak ada pilihan selain mendapatkan cukup uang untuk makan sehari-hari, alih-alih menamatkan pendidikan mereka.
(ae/gtp)
Jika Anda menderita tekanan emosional atau pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan profesional. Anda dapat menemukan informasi untuk mencari bantuan, di mana pun Anda berada melalui situs web ini: www.befrienders.org