Perjuangan Anak-anak Petani di India Setelah Ditinggal Bunuh Diri
Di India hampir 60.000 kasus bunuh diri terjadi di kalangan petani. Mereka gagal panen dan tidak bisa membayar utang. Anak-anak mereka…
Orang tua Renu Wankhade, remaja perempuan berusia 19 tahun, selalu berkata bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan yang menjerat keluarga petani mereka. Tapi untuk menyelesaikan pendidikan juga tidak mudah.
Pada Juni 2016, ayahnya yang bernama Devrao, kehilangan harapan akibat terlilit utang sebesar € 650 (sekitar Rp 10 juta) setelah bertahun-tahun gagal panen. Ia bunuh diri dengan cara minum pestisida.
Selama hampir tiga tahun, Renu berpegang pada kepercayaan ayahnya bahwa pendidikan akan mengubah nasib mereka. Ia terus belajar. Tapi tahun ini, dia terpaksa berhenti mengejar gelar Bachelor of Arts karena tidak mampu membayar biaya tahunan sebesar € 45 (hampir senilai Rp 700.000) yang mencakup biaya pendidikan dan transportasi.
"Saya selalu ingin belajar lebih lanjut. Tapi kini masalahnya adalah bagaimana bisa bertahan hidup. Ibu saya membutuhkan saya di ladang supaya kami dapat menghasilkan cukup uang untuk makan," ujar Renu.
Cerita yang mirip dengan kisah Renu ini banyak dijumpai di wilayah kering Vidarbha di negara bagian Maharashtra, India barat. Lebih dari 250.000 petani di India melakukan bunuh diri antara tahun 1997 dan 2012.
Pemerintah blokir akses terhadap data
Sejak 2016, pemerintahan Presiden Modi secara tidak resmi memblokir rilis data resmi tentang jumlah petani yang melakukan bunuh diri di negara itu. Namun pada Juli 2018, pemerintah India mengatakan kepada majelis rendah parlemen bahwa pada 2016, ada sebanyak 11.370 petani telah melakukan bunuh diri di India dan dari jumlah itu, sebanyak 3.661 kasus terjadi di Maharaashtra.
Para ahli advokasi percaya bahwa kurangnya data otentik membuat mereka sulit menuntut pemerintah untuk membantu korban lebih banyak lagi.
Perubahan iklim yang mendorong perubahan pola cuaca, mulai dari seringnya curah hujan yang berlebihan hingga kekeringan, membuat para petani seperti Devrao merugi dalam jumlah yang sangat besar. Sebagai akibatnya utang di seluruh rumah tangga para petani di wilayah tersebut terus meningkat.
Di India, hampir 60.000 kasus bunuh diri dianggap terkait dengan perubahan iklim, menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal PNAS.
Namun krisis agraria dengan cepat merambah dimensi sosial. Kurangnya dukungan yang memadai dari negara, lingkaran setan kemiskinan dan meningkatnya utang karena kerugian dari aktivitas pertanian telah mendorong anak-anak muda seperti Renu untuk menghentikan pendidikan mereka untuk membantu keluarga.
Aktivis setempat mengatakan bahwa keadaan ini telah mendorong anak-anak ke dalam perburuhan.
'Terpaksa pekerjakan anak agar bisa makan'
Awal tahun ini, sebuah laporan oleh lembaga swadaya masyarakat di India, Child Rights and You (CRY), memperkirakan sebesar 60,67 persen anak-anak yang bekerja di Maharashtra dipekerjakan di sektor pertanian, demikian menurut sebuah laporan di surat kabar berbahasa Inggris The Hindu.
Surat kabar ini melaporkan bahwa dari total 40,34 juta anak-anak dan remaja yang bekerja di India, sebanyak 25,23 juta (62,5 persen) bekerja di sektor pertanian.
Rahul Bais, salah satu pendiri Swarajya Mitra, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Amravati yang berfokus pada petani perempuan dan keluarganya, percaya ada korelasi kausal yang kuat antara tekanan agraria dan buruh anak. Bais mengatakan bahwa jika keluarga harus bertahan hidup, mereka akan mendorong anak-anak kecil ke dalam dunia kerja.