Virus Corona

Masker 'Menghilang' di Pasaran, Ratusan Warga Jepang Tertipu Email Palsu yang Tawarkan Masker Gratis

Menurut Katsuyuki Okamoto, sedikitnya 600 orang sudah jadi korban email palsu tersbeut yang disebarkan sejak dua hari terakhir ini.

Masker 'Menghilang' di Pasaran, Ratusan Warga Jepang Tertipu Email Palsu yang Tawarkan Masker Gratis
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Email palsu yang diterima dengan URL yang berbahaya kalau di klik dapat mencuri data pribadi di dalam komputer. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -Menghilangnya persediaan masker di pasaran Jepang membuat warga kesulitan untuk membeli masker. Parahnya lagi bermunculan email palsu yang menawarkan masker gratis.

"Bahaya sekali email tersebut kalau kita klik URL atau alamat web nya," ungkap Katsuyuki Okamoto dari Cyber Security Trend Micro, Kamis (6/2/2020).

Menurut Katsuyuki Okamoto, sedikitnya 600 orang sudah jadi korban email palsu tersbeut yang disebarkan sejak dua hari terakhir ini.

"Belum lagi email palsu yang melampirkan file tertentu berisi program virus yang bisa mengambil data pribadi kita bahkan juga password komputer," tambahnya.

MASKER N95 LANGKA - Seorang beli bertransaksi pembelian masker N95 di Pasar Pramuka, Jakarta. Selasa (4/2/2020). Sejumlah pedagang Farmasi menyatakan kebahisan Masker N95 dan sangat langka. Hal ini dikarenakan Mewabahnya Virus Corona dari China, membuat masyarakat mencegah dengan membeli Masker N95 tersebut. (Wartakota/Nur Ichsan)
MASKER N95 LANGKA - Seorang beli bertransaksi pembelian masker N95 di Pasar Pramuka, Jakarta. Selasa (4/2/2020). Sejumlah pedagang Farmasi menyatakan kebahisan Masker N95 dan sangat langka. Hal ini dikarenakan Mewabahnya Virus Corona dari China, membuat masyarakat mencegah dengan membeli Masker N95 tersebut. (Wartakota/Nur Ichsan) (Wartakota/Nur Ichsan)

Sebuah email yang jelas menuliskan dari Kyoto-fu Sanjonan Health Center dengan nama kontak personalianya serta nomor telepon, membuat sebagian penerima email percaya.

"Namun kalau kita perhatikan isi email tersebut ada sedikitnya dua kanji salah penulisan. Berarti itu dilakukan oleh orang China bukan oleh orang Jepang," kata Toshiyuki Yamashita membantah email yang seolah dikeluarkan oleh lembaganya di Kyoto.

Menurut Yamashita, sudah sedikitnya 300 orang menelepon kepadanya untuk mengkonfirmasi email tersebut.

Baca: Cegah Virus Corona, Warga Jakarta Diimbau Pakai Masker Saat Berada di Luar Ruangan

Baca: Dampak Karantina WNI dari Wuhan ke Natuna, Harga Masker Melonjak

"Namun tetap saja ada korban yang membuka lampiran file dari email tersebut yang dapat menyerang dan mengambil atau mencuri data di dalam komputer," tambahnya.

Yamashita menyarankan agar jangan pernah membuka lampiran atau jangan pernah membuka email dari pihak yang tidak jelas.

"Kalau pun terbuka email tersebut dari orang yang tidak dikenal atau terasa aneh, sebaiknya langsung di-delete buang ke sampah," lanjut Katsuyuki Okamoto.

Info lengkap dan diskusi Jepang bisa bergabung ke WAG Pecinta Jepang kirimkan email nama lengkap dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved