Virus Corona
Masyarakat 'Bandel' Tak Patuh Lockdown, Pemerintah Malaysia Memutuskan untuk Menurunkan Tentara
Tentara Malaysia akan membantu polisi dalam patroli selama masa penguncian atau lockdown, sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus corona.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Miftah
TRIBUNNEWS.COM - Tentara Malaysia akan membantu polisi dalam patroli selama masa penguncian atau lockdown, sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus corona.
Seperti yang dilansir Daily Sabah, Kementerian Pertahanan Malaysia berkata pada Jumat (20/3/2020) bahwa tentara akan membantu polisi untuk memantau situasi demi memastikan masyarakat mematuhi lockdown.
Polisi pada awalnya ditugaskan untuk menegakkan pembatasan, tetapi Menteri Pertahanan Ismail Sabri Yaakob menyatakan tentara akan didatangkan mulai hari Minggu.
Baca: Mardani Ali Geram Social Distancing Tidak Ketat: Malaysia Sudah Pakai Tentara, Jangan Seperti Iran
"Kami yakin bahwa dengan bantuan tentara, penegakan yang lebih keras dapat dilakukan," ujar Ismail dalam konferensi pers.
"Masih banyak yang tidak peduli dengan perintah dari pemerintah."

Diberitakan sebelumnya, pada Senin lalu, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengumumkan bahwa mulai 18-31 Maret, warga Malaysia tidak akan diizinkan meninggalkan negara dan hanya orang asing yang bekerja di "layanan penting" yang bisa masuk.
Sebagian besar bisnis telah tutup, kecuali untuk toko kelontong dan apotek.
Pemerintah memperingatkan orang-orang untuk tidak pergi ke luar rumah kecuali membeli barang-barang penting.
Baca: 130 WNI Dpulangkan Dari Malaysia, Gubernur Riau Minta Kesehatan Mereka Diperiksa
Namun, kepala polisi mengeluh selama minggu itu bahwa masyarakat tetap berpergian meskipun Muhyiddin mendesak untuk "tetap tinggal di dalam rumah."

Masih diberitakan Daily Sabah, jumlah kasus virus corona yang dikonfirmasi di Malaysia mencapai 900 orang pada hari Kamis, tertinggi keempat di Asia.
Jumlahnya meningkat lima kali lipat selama sepekan terakhir.
Kementerian Kesehatan sampai memberi peringat bahwa akan ada "tsunami" kasus baru yang akan terjadi jika lockdown tidak berhasil.
Sebagian besar kasus baru di Malaysia berkaitan dengan acara keagamaan yang diadakan di pinggiran Kuala Lumpur pada akhir Februari lalu.
Acara tablig akbar itu dihadiri oleh sekitar 15.000 orang, termasuk 1.500 orang dari luar negeri.
Ismail mengatakan bahwa sekitar 4.000 orang yang menghadiri acara tersebut tetapi belum datang untuk pengujian COVID-19, akan dilacak oleh polisi.