Virus Corona

Banyak Pembatalan Acara Perkawinan, Pengacara Jepang Mulai Sibuk Hadapi Masalah

Para ahli umumnya mengatakan bahwa kita tidak perlu membayar biaya pembatalan, tetapi tergantung pada kapan waktu membatalkan tersebut

Richard Susilo
Pakaian pengantin pasangan Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Akibat pandemi Corona di Jepang, banyak acara pernikahan dan acara lain dibatalkan. Lalu bagaimana uang muka pembatalan?

Pengacara Jepang pun mulai sibuk mengurus masalah uang-uang pembatalan tersebut.

Para ahli umumnya mengatakan bahwa kita tidak perlu membayar biaya pembatalan, tetapi tergantung pada kapan waktu membatalkan tersebut.

Pada tanggal 27 April 2020 ada 1373 konsultasi di Pusat Urusan Konsumen Nasional tentang pembatalan dan penundaan pernikahan terkait virus corona baru.

Bahkan setelah deklarasi keadaan darurat, ruang pernikahan tidak dikenakan permintaan cuti, tetapi ada banyak ruang upacara yang menahan diri untuk tidak berbisnis.

Jika pernikahan dibatalkan karena penyebaran infeksi, apakah pasangan tersebut harus membayar biaya pembatalan?

Noriko Homma, seorang pengacara yang akrab dengan masalah konsumen, umumnya mengatakan bahwa tidak ada kewajiban untuk membayar biaya pembatalan.

Homma berkata, "Kami mengerti bahwa kami tidak dapat mengadakan pernikahan dalam situasi di mana pemerintah menuntut untuk menghindar "3 kepadatan" karena orang-orang pindah dari prefektur lain dan makan dan minum dengan jumlah orang yang tidak ditentukan.

Karena ini adalah situasi yang siapa pun tidak bisa melakukannya bahkan jika saya ingin menahannya sekalipun, tekannya lagi.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved