Breaking News:

Penanganan Covid

Australia Kembali Laporkan Kasus Pembekuan Darah setelah Terima Vaksin AstraZeneca

Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZecena Plc pada Selasa (13/4/2021).

Sergei SUPINSKY / AFP
Seorang pekerja medis menyusun dosis vaksin Oxford / AstraZeneca untuk melawan penyakit virus corona, yang dipasarkan dengan nama Covishield dan diproduksi di India, dalam jarum suntik selama vaksinasi para imam di Kiev pada 16 Maret 2021. Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZecena Plc pada Selasa (13/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM - Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZecena Plc pada Selasa (13/4/2021).

Meski demikian, Reuters melaporkan, tak ada peningkatan pembatalan jadwal vaksinasi.

Diketahui, pihak berwenang bekerja lebih keras untuk menyusun kampanye vaksinasi yang dinilai kurang rapi.

Pekan ini, Australia disebut membatalkan rencana untuk memvaksinasi hampir semua penduduknya pada akhir tahun.

Keputusan ini diambil mengingat adanya laporan dari regulator obat Eropa yang menemukan kasus pembekuan darah yang langka di antara penerima dewasa dosis AstraZeneca yang diperkirakan memiliki hubungan.

Baca juga: Imbas Perang Dagang Australia - China, Harga Batubara Acuan Naik Jadi USD86,68/ton

Baca juga: Mengenal Vaksin Covid-19 AstraZeneca, dari Kandungan hingga Efek Samping

Seorang pekerja medis menyusun dosis vaksin Oxford / AstraZeneca untuk melawan penyakit virus corona, yang dipasarkan dengan nama Covishield dan diproduksi di India, dalam jarum suntik selama vaksinasi para imam di Kiev pada 16 Maret 2021.
Seorang pekerja medis menyusun dosis vaksin Oxford / AstraZeneca untuk melawan penyakit virus corona, yang dipasarkan dengan nama Covishield dan diproduksi di India, dalam jarum suntik selama vaksinasi para imam di Kiev pada 16 Maret 2021. (Sergei SUPINSKY / AFP)

Hal ini mendorong pejabat Australia untuk merekomendasikan mereka yang berusia di bawah 50 tahun untuk menerima vaksin Pfizer Inc daripada suntikan AstraZeneca, sehingga program vaksinasi menjadi berantakan.

“Kami telah mengantisipasi potensi penurunan yang signifikan (dalam jumlah vaksinasi, tetapi itu) bukan yang kami lihat pada tahap ini,” ucap Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan kepada wartawan di Canberra.

Sementara itu, pihak berwenang mengatakan pihaknya tidak memiliki rencana untuk menambahkan vaksin satu dosis dari Johnson & Johnson ke dalam program vaksinasinya.

Sebab, Australia ingin menjauh dari pengadaan vaksin yang sedang ditinjau kemungkinan kaitannya dengan pembekuan darah.

Botol vaksin Johnson & Johnson Janssen Covid-19 dosis tunggal yang disiapkan oleh St. John's Well Child and Family Center dan Los Angeles County Federation of Labour and Immigrant pada 25 Maret 2021 di Los Angeles, California
Botol vaksin Johnson & Johnson Janssen Covid-19 dosis tunggal yang disiapkan oleh St. John's Well Child and Family Center dan Los Angeles County Federation of Labour and Immigrant pada 25 Maret 2021 di Los Angeles, California (Frederic J. BROWN / AFP)

Baca juga: Vaksin Covid-19 AstraZeneca Bermasalah, Eropa Temukan Kasus Pembekuan Darah

Vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca menggunakan adenovirus, kelas virus flu biasa yang tidak berbahaya, untuk memasukkan protein virus corona ke dalam sel-sel tubuh dan memicu respons imun.

Halaman
12
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Tiara Shelavie
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved