Breaking News:

Prancis Imbau Warganya Tinggalkan Pakistan setelah Protes Anti-Prancis Meletus

Kedutaan Prancis di Pakistan imbau semua warga negaranya & perusahaan Prancis tinggalkan negara tersebut untuk sementara waktu, pada Kamis (15/4/2021)

Aamir QURESHI / AFP
Pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) melempar batu ke kendaraan lapis baja polisi selama protes terhadap penangkapan pemimpin mereka saat dia menuntut pengusiran duta besar Prancis atas penggambaran Nabi Muhammad, di lingkungan Barakahu di Islamabad pada 13 April 2021. Ribuan pendukung partai ekstremis Pakistan bentrok dengan polisi untuk hari kedua, menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap setelah menyerukan duta besar Prancis untuk diusir dari negara itu atas dukungan Prancis untuk hak majalah untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. 

TRIBUNNEWS.COM - Kedutaan Prancis di Pakistan mengimbau semua warga negaranya dan perusahaan Prancis meninggalkan negara tersebut untuk sementara waktu, pada Kamis (15/4/2021).

Dilansir France24, pihak berwenang mengeluarkan perintah tersebut menyusul meletusnya protes kekerasan anti-Prancis, yang melumpuhkan sebagian besar Pakistan pekan ini.

"Karena ancaman serius terhadap kepentingan Prancis di Pakistan, warga negara Prancis dan perusahaan Prancis disarankan meninggalkan negara itu untuk sementara," ungkap Keduataan Prancis dalam e-mail kepada warga Prancis.

"Keberangkatan akan dilakukan oleh maskapai penerbangan komersial yang ada," imbuh keterangan Kedutaan tersebut.

Baca juga: Prancis Masuki Lockdown Nasional Ketiga di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Baca juga: Prancis Perpanjang Lockdown Nasional Selama 4 Pekan dan akan Menutup Sekolah Mulai 3 April

Pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) melempar batu ke kendaraan lapis baja polisi selama protes terhadap penangkapan pemimpin mereka saat dia menuntut pengusiran duta besar Prancis atas penggambaran Nabi Muhammad, di lingkungan Barakahu di Islamabad pada 13 April 2021.
Ribuan pendukung partai ekstremis Pakistan bentrok dengan polisi untuk hari kedua, menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap setelah menyerukan duta besar Prancis untuk diusir dari negara itu atas dukungan Prancis untuk hak majalah untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad.
Pendukung partai Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) melempar batu ke kendaraan lapis baja polisi selama protes terhadap penangkapan pemimpin mereka saat dia menuntut pengusiran duta besar Prancis atas penggambaran Nabi Muhammad, di lingkungan Barakahu di Islamabad pada 13 April 2021. Ribuan pendukung partai ekstremis Pakistan bentrok dengan polisi untuk hari kedua, menuntut pembebasan pemimpin mereka yang ditangkap setelah menyerukan duta besar Prancis untuk diusir dari negara itu atas dukungan Prancis untuk hak majalah untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. (Aamir QURESHI / AFP)

Sentimen Anti-Prancis

Langkah itu dilakukan sehari setelah Kementerian Dalam Negeri Pakistan mengatakan akan melarang Tehrik-i-Labaik Pakistan (TLP), kelompok Islam garis keras yang bertanggung jawab atas protes anti-Prancis baru-baru ini di seluruh negeri.

TLP menuntut pemerintah Pakistan mengusir Duta Besar Prancis dan mendukugn boikot produk Prancis karena Charlie Hebdo menerbitkan ulang karikatur/kartun Nabi Muhammad tahun lalu.

Sentimen anti-Prancis telah membara selama berbulan-bulan di Pakistan, sejak pemerintah Presiden Emmanuel Macron menyatakan dukungannya terhadap hak Charlie Hebdo untuk menerbitkan ulang kartun tersebut, yang dianggap menghina oleh banyak Muslim.

Baca juga: Prancis Buka Kembali Kedutaannya di Libya setelah Ditutup 7 Tahun

Baca juga: Charlie Hebdo: 14 orang dinyatakan bersalah dalam serangan teror Paris 2015

Pengambilan gambar ini diambil dari sebuah video yang dipublikasikan di akun twitter Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 7 Januari 2021 menunjukkan Presiden Prancis sedang menyampaikan pidato setelah pendukung Presiden AS Donald Trump menyerbu Capitol AS. Pemimpin Prancis Emmanuel Macron mengatakan:
Pengambilan gambar ini diambil dari sebuah video yang dipublikasikan di akun twitter Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 7 Januari 2021 menunjukkan Presiden Prancis sedang menyampaikan pidato setelah pendukung Presiden AS Donald Trump menyerbu Capitol AS. Pemimpin Prancis Emmanuel Macron mengatakan: "Kami tidak akan menyerah pada kekerasan beberapa orang yang ingin mempertanyakan" demokrasi setelah pendukung Donald Trump melanggar Capitol AS beberapa jam sebelumnya. (EMMANUEL MACRON / TWITTER / AFP)

Protes Kekerasan Anti-Prancis

Bentrokan meletus pada Selasa (13/4/2021) antara pendukung TLP dan petugas polisi setelah pemimpin kelompok itu, Saad Rizvi, ditahan beberapa jam usai mendorong ribuan pendukungnya untuk turun ke jalan di kota-kota di seluruh Pakistan.

Halaman
12
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Tiara Shelavie
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved