Breaking News:

Penanganan Covid

Profesor Jepang Minta Warga Lebih Berhati-hati terhadap Penyebaran Covid-19

Mengenai pembatalan deklarasi darurat di masa depan, ada perdebatan bahwa jangka waktu 17 hari mungkin singkat.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Tim antisipasi corona dari berbagai otoritas termasuk polisi menegur masyarakat lewat berbagai imbauan tertulis di papan hijau yang dipegangnya. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Profesor Shigeru Omi, ketua subkomite pemerintah yang menghadiri konferensi pers Menteri Revitalisasi Ekonomi Nishimura pada malam tanggal 23 April, meminta masyarakat menghindari kerumunan.

Bahkan kalau bisa tetap di rumah saja karena saat ini variasi mutan corona semakin banyak dan semakin bahaya.

"Untuk melindungi kesehatan masyarakat akibat pengaruh strain mutan, perlu untuk mengurangi peluang kontak dengan orang-orang. Selama periode keadaan darurat, kurangilah rekreasi," ungkap Profesor Omi.

Profesor Omi mengomentari situasi infeksi saat ini.

"Penggantian galur (generasi keturunan) konvensional dengan galur mutan berkembang pesat, dan tempat terjadinya infeksi semakin beragam. Kita perlu memperkuat sistem medis dapat merespons kecepatan penyebaran virus. Untuk melindungi kesehatan masyarakat, perlu untuk mengurangi kemungkinan kontak dengan orang," jelasnya.

PM Yoshihide Suga (kiri) dan Ketua Tim Ahli Profesor Omi (kanan) saat pengumuman Deklarasi Darurat, Jumat (23/4/2021) malam di Kantor PM Jepang.
PM Yoshihide Suga (kiri) dan Ketua Tim Ahli Profesor Omi (kanan) saat pengumuman Deklarasi Darurat, Jumat (23/4/2021) malam di Kantor PM Jepang. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Mengenai pembatalan deklarasi darurat di masa depan, ada perdebatan bahwa jangka waktu 17 hari mungkin singkat, tetapi subkomite sepakat bahwa syarat pembatalan harus diklarifikasi.

"Segera sebelum tanggal 11 Mei, kami akan mengevaluasi keefektifan deklarasi tersebut dan status infeksi dan buat keputusan," katanya.

Sebagai kondisi khusus untuk pembatalan, perlu disebutkan bahwa status infeksi telah memasuki "Tahap 3" dan tren penurunan yang stabil dapat diharapkan menuju "Tahap 2" dan bahwa ketegangan medis telah teratasi.

Misalnya, dimungkinkan untuk menerapkan "langkah-langkah prioritas seperti pencegahan penyebaran" setelah deklarasi tersebut dicabut.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved