Breaking News:

Olimpiade Tokyo

Jumlah Penonton Olimpiade Jepang Dipastikan Maksimum 10.000 Orang

Siswa dalam program penonton sekolah dan pengawas tidak akan dipertimbangkan sebagai penonton dan diperlakukan terpisah.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Ketua Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach saat pertemuan secara online dengan lima pihak, Senin (21/6/2021). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Rapat lima pihak memutuskan jumlah maksimum kapasitas penonton Olimpiade Jepang yang akan dibuka 23 Juli 2021 sebanyak 10.000 orang atau 50 persen dari kapasitas stadiun masing-masing tempat pertandingan.

"Mengingat pembatasan pemerintah pada acara publik, penonton batas untuk Olimpiade akan ditetapkan pada 50 persen dari kapasitas tempat, hingga maksimum 10.000 orang di semua tempat," ungkap Ketua Panitia Seiko Hashimoto saat membacakan hasil keputusan rapat 5 pihak antara Gubernur Tokyo, Ketua Panitia, Menteri Olimpiade, IOC dan IPC, Senin (21/6/2021) sore.

Siswa dalam program penonton sekolah dan pengawas tidak akan dipertimbangkan sebagai penonton dan diperlakukan terpisah.

"Pada prinsipnya, penonton akan diizinkan masuk ke acara dengan batasan di atas. Namun, jika ada deklarasi darurat atau tindakan prioritas lainnya yang bertujuan untuk mencegah infeksi dilaksanakan setiap saat setelah 12 Juli 2021, pembatasan jumlah penonton di pertandingan, termasuk kompetisi non-penonton, akan didasarkan pada konten keadaan darurat atau tindakan terkait lainnya," jelasnya.

Jika terjadi perubahan cepat dalam status infeksi dan dalam kapasitas sistem perawatan medis, pertemuan lima pihak akan segera diadakan untuk mempertimbangkan tindakan lebih lanjut.

Pihak Jepang telah merumuskan pedoman untuk penonton.

Baca juga: Tim Olimpiade Denmark Cabang Perahu yang Tiba di Jepang Diminta Tes PCR Setiap Hari Sampai 18 Juli

Masker harus dikenakan di tempat setiap saat, dilarang berbicara dengan suara keras atau berteriak, kemacetan harus dihindari melalui pengumuman yang sesuai, dan pengunjung harus meninggalkan tempat dan langsung pulang ke rumah.

Semua itu untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan saat berpindah antar prefektur.

Mengingat situasi Covid-19, pihak Jepang bermaksud untuk mempertimbangkan pembatalan atau pengurangan skala situs langsung dan acara tontonan publik untuk meminimalkan hal tersebut.

Kerangka kerja akan diterapkan untuk terus memantau status infeksi dan perawatan medis menggunakan saran ahli.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved