Breaking News:

Krisis Myanmar

Menlu Brunei Erywan Yusof Ditunjuk Jadi Utusan Khusus ASEAN untuk Bantu Akhiri Krisis di Myanmar

Menlu kedua Brunei, Erywan Yusof ditunjuk menjadi utusan khusus atau special envoy ASEAN untuk memediasi konflik yang terjadi di Myanmar.

Foto AP, Channel News Asia
Ilustrasi: Pengunjuk rasa anti-kudeta memberikan hormat tiga jari selama demonstrasi di Yangon, Myanmar, Jumat, 14 Mei 2021. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) kedua Brunei, Erywan Yusof ditunjuk menjadi utusan khusus atau special envoy ASEAN untuk memediasi konflik yang terjadi di Myanmar, setelah kudeta pada 1 Februari lalu.

Hal ini terungkap lewat pernyataan bersama ASEAN atau ASEAN Join Communique yang disahkan, Rabu (4/8/2021) sekitar pukul 13.00 WIB.

Dirjen Kerja Sama ASEAN Kemlu RI, Sidharto Suryodipuro dalam konferensi pers, Rabu (8/4/2021) mengatakan special envoy akan segera memulai kerjanya dan akan diberikan akses penuh kepada semua pihak di Myanmar.

Special envoy juga akan melapor dalam pertemuan tingkat Menlu pada pertemuan di bulan September.

Sebelumnya pada April lalu, para pemimpin negara-negara di Asia Tenggara setuju untuk mengirim utusan khusus ke Myanmar yang menjadi salah satu bagian dari "lima poin konsensus" yang disepakati.

Para menteri luar negeri kembali membahas masalah utusan khusus tersebut pada Senin, tetapi tidak ada penunjukan yang dibuat karena menunggu persetujuan pihak Myanmar.

Baca juga: Kemlu RI Tegaskan Pernyataan Bersama ASEAN Bukan Pengakuan Kepemimpinan Junta Militer Myanmar

Myanmar akhirnya mengkonfirmasi persetujuannya dalam pertemuan hari Rabu ini.

Dirjen Sidharto mengatakan selama pembahasan yang cukup alot, ASEAN kompak menyatakan pelaksanaan 5 poin konsensus itu mendesak.

“Kedepannya Myanmar harus bekerja sama. Karena bagaimanapun juga kesuksesan special envoy akan merupakan keberhasilan Myanmar untuk keluar dari krisis yang sekarang sudah berlapis-lapis. Ada situasi politik, ekonomi, ditambah lagi situasi Covid,” ujarnya.

Baca juga: 6 Bulan Kudeta Myanmar: Junta Janjikan Pemilu, Sebut akan Akhiri Darurat Militer pada Agustus 2023

Kemudian ASEAN juga kompak, bahwa pusat bantuan kemanusiaan ASEAN (AHA) perlu segera melakukan kerja untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Myanmar.

“Layak dicatat juga 5 poin consensus, special envoy, AHA center mendapat dukungan yang sangat kuat dari semua mitra ASEAN. Kami berharap ini bisa segera ditindaklanjuti dan terwujud,” ujarnya.

Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved