Ide Singapura di Sidang Umum PBB: Bantu Negara Kecil Lewat 'Digitalisasi dan Pemulihan Covid-19'
Singapura membuat program yang fokus pada kepemimpinan dan tata kelola, strategi dan kerangka kerja pembuatan kebijakan dalam penanganan covid-19.
Penulis:
Fitri Wulandari
Editor:
Willem Jonata
Kerangka kerja semacam itu juga diklaim dapat menutup kesenjangan digital diantara negara-negara.
Karena saat ini, 3,8 miliar orang di seluruh dunia masih 'terputus' secara digital.
"Dengan demikian, mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan, perawatan kesehatan, dan layanan penting lainnya di tengah pandemi. Tujuan program ini sederhana dan tunggal, bagaimana kita dapat meningkatkan kerja sama multilateral untuk memanfaatkan teknologi digital demi pembangunan berkelanjutan," kata Balakrishnan, dalam pidato UNGA-nya.
Menurutnya, ada banyak opsi alternarif yang bisa dipilih terkait pengimplementasian program ini.
"Ada banyak jalan yang bisa kita ambil, usulan Sekjen (PBB) untuk digital compact global, atau mungkin konvensi baru PBB tentang transformasi digital untuk pembangunan berkelanjutan, atau kerangka norma dan prinsip (bisa menjadi pilihan)," jelas Balakrishnan.
Balakrishnan kemudian mengatakan bahwa 'revolusi digital' merupakan salah satu masalah yang dibahas di UNGA.
Rencana ini didukung munculnya 'kecemasan yang cukup' atas dampak pandemi terhadap pekerjaan, ekonomi dan hubungan antar negara.
"Sudah cukup banyak fokus untuk mencoba mengatasi kesenjangan digital. Bagaimana menggalang dan memobilisasi pembiayaan untuk infrastruktur digital, dan juga pertanyaan tentang keterampilan, pelatihan ulang, pendidikan sehingga orang memiliki kemampuan yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari internet," tegas Balakrishnan.