Konflik di Afghanistan

Ada Ancaman Bom, AS dan Inggris Ingatkan Warganya Jauhi Hotel-Hotel di Kabul

Amerika Serikat dan Inggris mengingatkan warganya menjauhi hotel di Kabul atas kemungkinan adanya ancaman bom terhadao warga asing

Editor: hasanah samhudi
AFP
Seorang kerabat berduka saat pemakaman korban serangan bom bunuh diri terhadap jamaah di sebuah masjid Syiah Jumat (8/10/2021), di mana setidaknya 55 orang meninggal, di sebuah kuburan di Kunduz pada 9 Oktober 2021. 

TRIBUNNEWS.COM, KABUL - Amerika Serikat dan Inggris memperingatkan warganya agar menghindari hotel di Kabul, Afghanistan.

Peringatan ini dikeluarkan Senin (11/10/2021), beberapa hari setelah puluhan orang tewas di sebuah masjid dalam serangan bom yang diklaim oleh kelompok Negara Islam (IS).

"Warga AS yang berada di atau dekat Hotel Serena harus segera pergi," kata Departemen Luar Negeri AS, mengutip adanya ancaman keamanan di daerah tersebut.

"Mengingat peningkatan risiko, Anda disarankan untuk tidak menginap di hotel, khususnya di Kabul (seperti Hotel Serena)," tambah Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris, seperti dilansir dari dari Channel News Asia.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan, banyak warga asing telah meninggalkan Afghanistan. Tetapi sejumlah jurnalis dan pekerja bantuan tetap berada di ibu kota Kabul.

Baca juga: ISIS-K Akui Dalangi Teror di Masjid Syiah di Afghanistan, Bomber Ledakkan Diri di Tengah Jemaah

Baca juga: Pertemuan Taliban dengan Delegasi Inggris: Bicara soal Jalur Keluar yang Aman hingga Serangan ISIS

Hotel Serena yang terkenal, sebuah hotel mewah yang populer di kalangan pelancong bisnis dan tamu asing, telah dua kali menjadi sasaran serangan Taliban.

Pada tahun 2014, hanya beberapa minggu sebelum pemilihan presiden, empat pria bersenjata remaja dengan pistol yang disembunyikan di kaus kakinya berhasil menembus beberapa lapisan keamanan, menewaskan sembilan orang, termasuk seorang jurnalis AFP dan anggota keluarganya.

Pada tahun 2008, sebuah bom bunuh diri menewaskan enam orang.

Taliban, yang merebut kekuasaan pada Agustus dan mendeklarasikan Emirat Islam Afghanistan, berusaha mendapatkan pengakuan dan bantuan internasional untuk menghindari bencana kemanusiaan dan meredakan krisis ekonomi Afghanistan.

Tetapi, ketika kelompok Islam garis keras itu bertransisi dari tentara pemberontak menjadi kekuatan pemerintahan, mereka berjuang untuk menahan ancaman dari cabang Negara Islam Afghanistan.

Baca juga: AS dan Taliban Lakukan Pertemuan, Bahas Bantuan Kemanusiaan hingga Vaksinasi Covid-19 di Afghanistan

Baca juga: Amerika Serikat Selidiki Laporan Ashraf Ghani Bawa Jutaan Dolar Saat Kabur dari Kabul

Serangan IS

Agustus lalu, saat berlangsungnya evakuasi warga asing dan warga Afghanistan yang berisiko, negara-negara NATO memeringatkan tentang adanya ancaman yang akan terjadi. Mereka mengingatkan agar warga menjauhi Bandara Kabul.

Beberapa jam kemudian, seorang pengebom bunuh diri meledakkan diri di tengah kerumunan yang berkumpul di sekitar salah satu gerbang bandara, menewaskan puluhan warga sipil dan 13 tentara Amerika.

Serangan itu diklaim oleh IS, yang sejak itu menargetkan beberapa penjaga Taliban.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved