Penyakit Cacar Monyet

Pakar Penyakit Menular Rusia: Monkeypox Tidak Dapat Dianggap sebagai Pandemi

Seorang pakar penyakit menular Rusia mengklaim bahwa Monkeypox tidak dapat dianggap sebagai pandemi karena kasus yang ditemukan kecil.

rte.ie
Roche mengklaim berhasil menemukan alat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi penyakit cacar monyet (Monkeypox), saat virus itu menyebar ke luar dari negara endemik. Seorang pakar penyakit menular Rusia mengklaim bahwa Monkeypox tidak dapat dianggap sebagai pandemi karena kasus yang ditemukan kecil. 

TRIBUNNEWS.COM - Dokter penyakit menular asal Rusia, Yevgeny Timakov mengatakan kepada TASS, Monkeypox tidak dapat dianggap sebagai pandemi karena jumlahnya kasus kecil.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan agar cacar monyet dinyatakan sebagai pandemi.

"Penyakit ini sama sekali tidak dianggap sebagai pandemi. Hanya sedikit yang sakit, tidak terlalu menular," ungkapnya.

"Virus mungkin telah berubah dalam beberapa hal, tetapi tidak menimbulkan bahaya dalam skala global," jelas pakar tersebut.

Baca juga: Kementerian Kesehatan Tegaskan Kasus Cacar Monyet atau Monkeypox Belum Ada di Indonesia 

Timakov menyebut virus ditularkan hanya melalui kontak dekat dengan yang terinfeksi.

"Kalau (virus) dari hewan, kalau menular ke manusia, itu lebih berbahaya, dari (pada) manusia ke manusia (tingkat penularannya) kurang berbahaya, karena kehilangan patogennya," tambahnya.

Ia juga mencatat bahwa  ada peningkatan pemantauan orang yang memasuki Federasi Rusia dari negara-negara di mana kasus infeksi ditemukan.

Monkeypox adalah penyakit virus langka, biasanya ditularkan ke manusia oleh hewan liar seperti hewan pengerat dan primata.

Roche mengklaim berhasil menemukan alat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi penyakit cacar monyet (Monkeypox), saat virus itu menyebar ke luar dari negara endemik.
Roche mengklaim berhasil menemukan alat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mendeteksi penyakit cacar monyet (Monkeypox), saat virus itu menyebar ke luar dari negara endemik. (rte.ie)

Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot dan punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, kedinginan dan kelelahan. Ini mungkin juga melibatkan ruam kulit.

Menurut WHO, biasanya koefisien kematian selama wabah cacar monyet berkisar antara 1 persen hingga 10 persen dengan mayoritas kematian pada kelompok usia yang lebih muda.

Baca juga: Seorang Kru Kabin British Airways Terinfeksi Monkeypox saat Transit di Singapura

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved