Rusia akan Perdalam Kerja Sama Bidang Pertahanan dengan Myanmar

Rusia dan Myanmar perdalam kerjasama bidang pertahanan setelah para Min Aung Hlaing dan pejabat tinggi Kremlin bertemu di Moskow, Senin (11/7/2022)

Ye Aung THU / AFP
Dalam file foto yang diambil pada 19 Juli 2018 ini, Kepala Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing, panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar. Belum lama ini, Rusia dan Myanmar perdalam kerjasama bidang pertahanan setelah para Min Aung Hlaing dan pejabat tinggi Kremlin bertemu di Moskow, Senin (11/7/2022). 

TRIBUNNEWS.COM - Rusia dan Myanmar akan memperdalam kerja sama pertahanan mereka setelah pertemuan di Moskow antara pemimpin militer Myanmar, Min Aung Hlaing, dan pejabat tinggi pertahanan Rusia, kata Kementerian Pertahanan Rusia.

Dilansir Al Jazeera, Kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pertemuan itu terjadi pada Senin (11/7/2022).

Disebutkan bahwa Hlaing berada di Rusia untuk kunjungan pribadi.

"Pertemuan itu ... mengkonfirmasi disposisi bersama untuk secara konsisten membangun kerja sama multifaset antara departemen militer kedua negara," bunyi pernyataan itu.

Dikutip Reuters, Thomas Andrews, pakar hak asasi manusia PBB di Myanmar, mengatakan pada Februari bahwa Rusia telah memasok drone untuk Junta Myanmar.

Senjata itu terdiri dari dua jenis jet tempur, dan dua jenis kendaraan lapis baja, satu dengan sistem pertahanan udara.

Baca juga: Junta Myanmar Pindahkan Aung San Suu Kyi dari Tahanan Rumah ke Sel Isolasi di Kompleks Penjara

Dalam file foto yang diambil pada 19 Juli 2018 ini, Kepala Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing, panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar, datang untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan Myanmar Jenderal Aung San dan delapan orang lainnya yang dibunuh pada tahun 1947, selama sebuah upacara untuk memperingati 71 tahun Hari Martir di Yangon. Militer Myanmar merebut kekuasaan dalam kudeta tak berdarah pada 1 Februari 2021, menahan pemimpin yang terpilih secara demokratis Aung San Suu Kyi saat memberlakukan keadaan darurat satu tahun.
Dalam file foto yang diambil pada 19 Juli 2018 ini, Kepala Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing, panglima tertinggi angkatan bersenjata Myanmar, datang untuk memberikan penghormatan kepada pahlawan kemerdekaan Myanmar Jenderal Aung San dan delapan orang lainnya yang dibunuh pada tahun 1947, selama sebuah upacara untuk memperingati 71 tahun Hari Martir di Yangon. Militer Myanmar merebut kekuasaan dalam kudeta tak berdarah pada 1 Februari 2021, menahan pemimpin yang terpilih secara demokratis Aung San Suu Kyi saat memberlakukan keadaan darurat satu tahun. (Ye Aung THU / AFP)

Kekacauan telah mencengkeram Myanmar sejak kudeta militer pada awal 2021 mengakhiri satu dekade demokrasi tentatif, memicu protes bahwa pasukan junta ditekan dengan kekuatan mematikan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan penyelidikannya menunjukkan militer telah melakukan pembunuhan massal dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Junta mengatakan sedang berusaha memulihkan perdamaian dan ketertiban.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved