Pengadilan AS Dukung Rencana Penyebaran Satelit SpaceX di Orbit Bumi

SpaceXberencana menerbangkan beberapa satelitnya sebagai bagian dari upaya untuk menawarkan internet broadband berbasis ruang angkasa.

Brendan Smialowski / AFP
Elon Musk, pendiri SpaceX. Sejak 2019, SpaceX telah meluncurkan sekitar 3.000 satelit Starlink ke orbit Bumi rendah. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Pengadilan Banding Amerika Serikat (AS) menguatkan keputusan Lembaga Komisi Penyiaran AS (FCC) untuk menyetujui rencana SpaceX menyebarkan beberapa satelit Starlink di orbit Bumi rendah atau Low Earth Orbit (LEO).

SpaceX, perusahaan satelit milik Elon Musk, berencana menerbangkan beberapa satelitnya sebagai bagian dari upaya untuk menawarkan internet broadband berbasis ruang angkasa.

Dikutip dari Reuters, pada tahun 2021 SpaceX mendapat persetujuan dari FCC untuk menerbangkan 2.824 satelit ke orbit Bumi rendah untuk menyediakan layanan internet broadband berkecepatan tinggi.

Baca juga: T-Mobile Gandeng Spacex Tingkatkan Konektivitas Layanan Internet Melalui Satelit

Namun, dua perusahaan saingan SpaceX, Viasat Inc dan DISH Network Corp telah menentang persetujuan FCC tersebut.

Viasat mengatakan, pihaknya yakin keputusan FCC ini dapat mengancam keselamatan lingkungan dan ruang angkasa.

"Keputusan tersebut merupakan kemunduran bagi keselamatan ruang angkasa dan perlindungan lingkungan," ujar Viasat pada Jumat (26/8/2022) lalu.

Menanggapi dukungan Pengadilan Banding AS terhadap keputusan FCC, Viasat mencatat rencana penyebaran satelit SpaceX dinilai berbahaya karena sejauh ini terdapat 10.000 satelit telah diluncurkan.

"Sebagai perbandingan, sekitar 10.000 satelit, total, telah diluncurkan dalam semua sejarah manusia," ungkap Viasat.

Sementara itu, Pengadilan Banding AS mengemukakan bahwa teori Viasat terlalu spekulatif.

"Viasat hanya mengoperasikan satu satelit yang terbang dekat dengan konstelasi SpaceX. Teori cedera ini terlalu spekulatif," kata Pengadilan Banding AS.

Penyedia layanan televisi dan radio berlangganan AS, DISH Network menegaskan pihaknya akan memastikan operasi satelit SpaceX tidak akan mengganggu layanan satelitnya.

"Kami akan tetap waspada dalam memastikan bahwa operasi SpaceX tidak membahayakan jutaan pelanggan satelit kami," kata DISH.

Baca juga: Elon Musk Tambahkan Dogecoin Sebagai Alat Pembayaran Sah dari SpaceX

SpaceX tidak memberikan tanggapan mengenai hal ini. Pada Kamis (25/8/2022) lalu, operator nirkabel AS T-Mobile mengatakan pihaknya akan menggunakan satelit Starlink SpaceX untuk menyediakan akses jaringan bagi penggunanya di beberapa wilayah Amerika Serikat.

Sejak 2019, SpaceX telah meluncurkan sekitar 3.000 satelit Starlink ke orbit bumi rendah. Perusahaan ini telah melampaui layanan internet satelit broadband lainnya seperti OneWab dan anak perusahaan Amazon.com, Kuiper Systems LLC.

SpaceX didirikan pada tahun 2002 dan berkantor pusat di California, Amerika Serikat. Elon Musk mengatakan salah satu tujuannya mendirikan perusahaan ini adalah untuk mengurangi biaya dan meningkatkan akses ke luar angkasa.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved