Benarkah Dunia Butuh Energi Nuklir demi Capai Target Iklim?
Nuklir kembali dilirik sebagai sumber listrik rendah emisi, terutama demi menopang transformasi menuju teknologi baru seperti kecerdasan…
Pada pertemuan puncak iklim 2023 di Dubai, energi nuklir untuk pertama kalinya tercantum di antara teknologi rendah emisi yang dibutuhkan untuk mencapai "pengurangan emisi gas rumah kaca yang luas, cepat, dan berkelanjutan."
Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim 2022 PBB juga menyebutkan nuklir, dengan mengatakan bahwa "tidak mungkin semua sistem energi rendah karbon di seluruh dunia akan bergantung sepenuhnya pada sumber energi terbarukan."
Meskipun mengakui bahwa angin dan matahari bisa berperan besar dalam mendorong transformasi energi, analis masih mengeluhkan ketidakandalan energi terbarukan, yang bergantung pada ketersediaan matahari dan angin.
Sejak konferensi iklim Dubai, sebanyak 31 negara — di antaranya negara nuklir utama seperti Prancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang — telah berjanji untuk melipatgandakan kapasitas pada tahun 2050. Negara-negara non-nuklir seperti El Salvador, Jamaika, Moldova, dan Mongolia juga berniat serupa.
Namun, laporan WNISR 2024 bernada skeptis terhadap janji pengembangan energi nuklir. Dengan mencantumkan serangkaian potensi hambatan seperti biaya tinggi, waktu konstruksi, dan kurangnya kapasitas industri, laporan tersebut menunjukkan bahwa untuk melipatgandakan kapasitas terpasang saat ini, lebih dari 1.000 reaktor baru akan dibutuhkan.
Bahkan dengan SMR yang menyumbang sejumlah besar energi, "ratusan atau bahkan ribuan pembangkit perlu dibangun untuk mendekati tujuan itu," kata Schneider dalam wawancara Desember 2023 dengan Bulletin of the Atomic Scientists.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.