Tradisi Melukat di Bali semakin populer bagi wisatawan, tapi mengapa warga Bali khawatir?
Upacara pembersihan jiwa dan pikiran di Bali menjadi tren di TikTok. Sebagian warga lokal mengapresiasi hal ini, tetapi tidak sedikit…
Salah tempat di Pulau Dewata yang sering dikunjungi mereka yang ingin mencari ketentraman batin adalah Ubud yang terletak di Gianyar.
Ubud secara harfiah berarti "obat" dan kota ini dipenuhi berbagai pusat kesehatan seperti rumah yoga.
Salah satu destinasi populer dekat Ubud adalah Pura Tirta Empul yang berusia 1.000 tahun dan sudah menjadi situs Warisan Dunia UNESCO.
Pura yang terletak di Kecamatan Tampaksiring memiliki tiga kolam suci. Berbagai wisatawan yang ingin membersihkan diri mereka dari energi negatif marak memenuhi pura ini.
Dewa Gede Bawa, seorang guru yoga di Ubud, mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke kota kelahirannya untuk menjalani Melukat meningkat secara pesat.
"Setelah masa pandemi, banyak orang ingin berwisata sekaligus menyembuhkan diri. [Setelah terjebak] di rumah selama beberapa bulan, orang-orang mengalami depresi. Itu sebabnya mereka datang ke tempat seperti Bali untuk terhubung kembali [dengan] diri mereka sendiri."
Gede menghargai peningkatan minat terhadap tradisi Bali ini.
Di sisi lain, dia berharap pihak-pihak yang berpartisipasi dalam Melukat tidak melupakan fakta bahwa ini adalah tradisi keagamaan.
"Selama empat atau lima tahun terakhir, [saya merasa] tradisi ini terlalu diekspos. Sejumlah [orang memperlakukannya] seperti tren [dan] itu membuat saya agak khawatir. Saya tidak mau keaslian makna Malukat menjadi hilang."
Wisatawan diizinkan untuk mengikuti upacara Melukat selama mereka berpakaian sopan dengan sarung dan tidak sedang menstruasi.
Tidak sedikit pengunjung yang tidak menghargai tradisi ini. Contohnya adalah sebuah klip yang viral di media sosial memperlihatkan seorang turis pria yang mengikuti Melukat di Pura Tirta Empul tanpa mengenakan sarung.
Gede mengatakan bahwa orang Bali perlu bijaksana dalam membagikan pengetahuan mereka.
"Ini adalah tantangan yang kita hadapi sekarang apalagi setelah ekonomi terdampak pandemi. Banyak orang putus asa dan ingin memperoleh sesuatu dari kearifan atau budaya yang kita miliki. Akibatnya, mereka sering lupa bahwa ada aturan yang harus kita jaga."
Bandem menganjurkan kepada siapa pun yang ingin menjalankan Melukat agar mencari bimbingan dari pemangku agama untuk memastikan urutan ritual berakar pada tradisi.
Selain itu, Bandem mengingatkan kesungguhan dari Melukat bisa saja luntur apabila orang-orang terlalu mementingkan selfie alias swafoto serta aspek komersial lainnya.
"Malukat tidak dimaksudkan untuk menjadi tontonan yang megah. Malukat seharusnya terasa tulus, hormat, dan membumi secara spiritual. Siapa saja yang mengikuti [Malukat] semestinya merasa jernih di hati setelah ritual usai," kata Bandem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesiae6f76910-d3b5-11ef-9da7-c1c79bfc6e92.jpg.jpg)