Rusia Bantah Terlibat Penembakan Pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina
Rusia menolak bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di atas wilayah udara Ukraina timur di 2014.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Rusia menolak klaim badan penerbangan sipil Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyatakan Rusia bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di atas wilayah udara Ukraina timur di 2014.
Moskow bersikeras menyatakan bahwa investigasi yang dipimpin Belanda atas insiden itu bermotif politik dan mengandalkan bukti "yang dipertanyakan" yang diajukan oleh Kiev.
"Posisi utama Moskow tetap bahwa Rusia tidak terlibat dalam jatuhnya MH17, dan bahwa semua pernyataan yang bertentangan oleh Australia dan Belanda adalah salah," sebut Kementerian Luar Negeri Rusia di situs resminya, Selasa, 13 Mei 2025.
Rusia menerbitkan pernyataan tersebut setelah Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) memutuskan bahwa Rusia telah gagal menegakkan kewajibannya untuk "menahan diri dari menggunakan senjata terhadap pesawat sipil yang sedang terbang."
Pesawat Malaysia Airlines nomor enerbangan 17 (MH17) ditembak jatuh di atas Ukraina timur pada 17 Juli 2014 dan menewaskan seluruh 298 orang di dalamnya.
Sebagian besar korban adalah warga negara Belanda, Malaysia, dan Australia.
Insiden itu terjadi saat pasukan Ukraina berusaha merebut kembali republik Donetsk dan Lugansk yang memproklamirkan diri, yang memilih untuk memisahkan diri setelah kudeta yang didukung Barat di Kiev awal tahun itu.
Kedua entitas itu kemudian memilih untuk menjadi bagian dari Rusia pada September 2022.
Investigasi yang dilakukan oleh Belanda, Australia, Belgia, Malaysia, dan Ukraina di 2015 menyimpulkan bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh sistem rudal permukaan-ke-udara Buk era Soviet yang dikirim oleh Rusia ke milisi Donbass.
Moskow membantah telah menyediakan senjata berat bagi pasukan lokal dan berpendapat bahwa pesawat itu terkena rudal yang digunakan oleh pasukan Ukraina, bukan Rusia.
Moskow juga mengkritik pengecualiannya dari investigasi.
Kementerian Luar Negeri mengecam keputusan Dewan ICAO sebagai bermotif politik, dengan menuduh adanya "beberapa pelanggaran prosedural."
Baca juga: Rusia Bertanggung Jawab atas Jatuhnya Pesawat MH17, Organisasi Penerbangan Sipil ICAO Menetapkan
Dikatakan bahwa ICAO telah mengabaikan "bukti faktual dan hukum yang cukup dan meyakinkan" yang diajukan oleh Rusia untuk menunjukkan ketidakterlibatannya dalam penembakan itu.
"Kesimpulan investigasi Belanda didasarkan pada kesaksian saksi anonim - yang identitasnya dirahasiakan - serta pada informasi dan materi yang dipertanyakan yang diajukan oleh pihak yang bias: Dinas Keamanan Ukraina," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Baca juga: Desakan Ganti Rugi Menguat usai Rusia Dinyatakan Bertanggung Jawab atas Jatuhnya MH17
Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan, Ukraina pada akhirnya harus disalahkan atas tragedi tersebut karena Kiev "meluncurkan operasi militer di Donbass dengan dalih palsu untuk memerangi terorisme."
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan Selasa lalu mengatakan, karena Rusia tidak menjadi bagian dari penyelidikan, maka "Rusia tidak menerima kesimpulan yang bias."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/hakim-ketua-hendrik-steenhuis-puing-puing-pesawat-malaysia-airlines-mh17.jpg)