Minggu, 31 Agustus 2025

Diuji di Wuhan, AI Tingkat Lanjut China Bisa Salip AS: Capai 30 Exaflop, AS Cuma Bisa 1,7

Tempat pengujian AI ini adalah kota Wuhan, yang terkenal disebut-sebut sebagai tempat munculnya virus COVID-19.

Foto oleh Zhang Xiangyi/China News Service/VCG
AI PENDIDIKAN - Platform kurikulum pintar AI milik perusahaan Tiongkok iFlytek di Konferensi Pendidikan Digital Dunia 2025 pada tanggal 15 Mei 2025. AI ini dikembangkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. 

Diuji di Wuhan, AI Tingkat Lanjut China Bisa Salip AS: Bisa Capai 30 Exaflop, AS Cuma Bisa 1,7

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah laporan terbaru mengklaim kalau para ilmuwan di China tengah membangun kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) tingkat lanjut yang digadang-gadang mampu mengungguli Amerika Serikat (AS).

AI tingkat lanjutnya disebutkan diresapi dengan nilai-nilai Partai Komunis Tiongkok untuk diterapkan guna menjaga tata sosial di negara tersebut.

"Pengembangan AI tingkat lanjut ini dapat mendorong Tiongkok mengungguli AS dalam perlombaan "kecerdasan umum buatan" seperti manusia," kata sebuah laporan yang dilansir NW mengutip keterangan lembaga ilimiah AS, dikutip Senin (19/5/2025).

Baca juga: Intelijen Barat Negara 5 Mata Mau Bedah Fragmen Rudal PL-15 Buatan China yang Ditemukan di India

Tempat pengujian AI ini adalah kota Wuhan, yang terkenal disebut-sebut sebagai tempat munculnya virus COVID-19.

"Selain laboratorium genetika, kota ini juga merupakan pusat utama bagi penelitian ilmiah dan teknologi lainnya — termasuk AI," kata laporan itu.

NW juga melaporkan kalau dengan bantuan dukungan negara yang besar, dua lembaga AI terkemuka yang berkantor pusat di Beijing telah mendirikan cabang di Wuhan untuk bekerja sama dalam menemukan alternatif canggih untuk model AI generatif skala besar atau LLM.

Sebagai informasi, LLM atau Large Language Model adalah model AI yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia.

"Pengembangan AI China di Wuhan ini menyita hampir seluruh perhatian pengembang dan pembuat kebijakan AI barat," kata sebuah tim di Pusat Keamanan dan Teknologi Baru (CSET) Universitas Georgetown dalam laporan yang diterbitkan pada Senin dan dilansir NW.

Pendekatan China yang multifaset dan inovatif terhadap AI berarti Amerika Serikat berisiko tertinggal - dan mungkin sudah terlambat, kata penulis utama laporan penelitian CSET, William C. Hannas.

"Kita perlu bekerja cepat dan cerdas. Menggelontorkan miliaran dolar lagi ke pusat data tidaklah cukup. Diperlukan pendekatan yang bersaing," kata Hannas.

"Dua keunggulan yang dimiliki AS, chip dan algoritma, sedang terkikis oleh solusi buatan dalam negeri China. Lebih buruk lagi, kedua pihak tidak memainkan permainan yang sama. Perusahaan-perusahaan AS terpaku pada model statistik yang besar, sedangkan China menutupi taruhannya dengan mendanai berbagai jalur AGI," kata Hannas, analis utama CSET dan mantan pakar senior CIA untuk analisis sumber terbuka China.

Inovasi yang Mengagetkan Dunia

Persaingan AI antara Tiongkok dan AS makin ketat.

Tiongkok mengejutkan dunia pada bulan Januari dengan meluncurkan DeepSeek, model AI generatif yang sukses dalam suatu bidang di mana AS diyakini memegang keunggulan tak tertandingi dengan penawaran seperti ChatGPT milik OpenAI .

Halaman
123
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan