Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
PBB di Ambang Kolaps, 6.900 Karyawan Terancam Dipecat Imbas Krisis Anggaran
PBB bersiap melakukan efisiensi, memangkas 6.900 pekerja di seluruh dunia mulai 1 Januari 2026, imbas krisis keuangan akibat lonjakan tunggakan
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersiap untuk melakukan efisiensi besar-besaran, dengan memangkas setidaknya 6.900 pekerja di seluruh dunia.
Informasi ini terungkap dalam memo internal yang ditandatangani oleh Pengawas Keuangan PBB, Chandramouli Ramanathan.
Dalam memo yang dikutip dari Reuters, seluruh unit serta lembaga di berbagai wilayah dunia diminta menyampaikan rincian rencana efisiensi paling lambat 13 Juni 2025.
Adapun pemangkasan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari 2026, bertepatan dengan awal siklus anggaran baru.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga akan mempengaruhi berbagai sektor.
Di antaranya seperti kantor politik dan kemanusiaan PBB, lembaga yang menangani pengungsi, kesetaraan gender, perdagangan internasional, lingkungan hidup, dan pembangunan kota.
Bahkan Badan PBB yang membantu pengungsi Palestina, UNRWA, juga termasuk dalam daftar.
Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif reformasi "UN80" yang diluncurkan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada bulan Maret, menjelang peringatan 80 tahun berdirinya PBB.
Guterres menekankan bahwa keputusan sulit ini tidak dapat dihindari, meski begitu upaya ini dilakukan bertujuan untuk memastikan PBB tetap relevan dalam mendukung multikulturalisme abad ke-21.
Serta mengurangi penderitaan manusia, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi semua
Langkah efisiensi juga mencerminkan upaya PBB untuk menyesuaikan diri dengan tantangan global yang terus berkembang.
“Ini adalah upaya ambisius untuk memastikan PBB siap menghadapi tantangan abad ke-21 dalam mendukung multikulturalisme, mengurangi penderitaan manusia, dan membangun kehidupan dan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Saya mengandalkan kerja sama Anda dalam upaya yang memiliki tenggat waktu yang ketat ini,” kata Ramanathan.
Baca juga: Sudah Dikecam PBB karena Ilegal, Menteri Israel malah Janji Bangun Negara Yahudi di Tepi Barat
Alasan PBB PHK Karyawan
Mengutip dari Reuters, keputusan ini merupakan imbas dari krisis keuangan yang sebagian dipicu oleh Amerika Serikat (AS).
AS diketahui mendanai PBB hampir seperempat dari anggaran tahunannya. Namun secara mengejutkan presiden AS Donald Trump memangkas anggaran untuk PBB secara signifikan selama masa jabatannya.
Selain pemotongan bantuan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump yang telah menguras habis lembaga kemanusiaan PBB.
AS sendiri diketahui memiliki tunggakan dan belum melunasi iuran tahun fiskal dengan jumlah hampir 1,5 miliar dolar AS.
Kegagalan AS membayar iurannya juga menciptakan krisis likuiditas bagi PBB, yang diperparah oleh keterlambatan pembayaran dari China.
Mengingat kedua negara ini menjadi penyumbang anggaran terbesar dimana total sumbangan keduanya mencapai lebih dari 40 persen total pendanaan PBB.
PBB Rombak Departemen
Selain melakukan PHK massal, Dalam beberapa pengarahan publik kepada diplomat PBB bulan ini, Guterres menyampaikan bahwa ia sedang mempertimbangkan perombakan besar-besaran.
Perombakan tersebut dengan menggabungkan sejumlah departemen dan mengalihkan sumber daya ke berbagai wilayah di dunia.
Ia menyebut bahwa PBB mungkin akan menggabungkan beberapa lembaga, memangkas lembaga lain, memindahkan staf ke kota-kota dengan biaya yang lebih rendah, menghilangkan duplikasi, serta memotong birokrasi yang tidak perlu.
WFP misalnya, diperkirakan akan memangkas hingga 30 persen stafnya. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) juga berencana mengecilkan kantor pusat dan kantor regionalnya, memangkas biaya hingga 30 persen dan mengurangi 50 persen posisi tingkat senior.
Badan lain seperti UNICEF (badan anak-anak PBB) dan OCHA (badan kemanusiaan PBB) juga sudah mengumumkan atau berencana melakukan pemangkasan staf.
Dengan mengurangi duplikasi tugas dan meningkatkan efisiensi operasional, PBB berharap dapat terus menjalankan misinya meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya.
Namun, rencana ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pegawai dan negara-negara anggota.
Banyak yang mempertanyakan dampak jangka panjang dari pemangkasan ini terhadap kemampuan PBB dalam menjalankan program-program kemanusiaan dan pembangunan di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, PBB berharap bahwa restrukturisasi ini akan memperkuat organisasi dan meningkatkan efektivitasnya dalam menghadapi tantangan global.
Dengan dukungan dan kerja sama dari semua pihak, PBB berupaya untuk tetap menjadi lembaga yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.