Konflik Iran Vs Israel
5 Skenario Jika Iran Balas Serang Amerika: Perang Dunia III Semakin di Depan Mata
Berikut 5 skenario jika Konflik Timur Tengah semakin memanas: Iran berpotensi serang AS yang dikekhawatiran memicu munculnya perang dunia ke III
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM – Konflik Timur Tengah semakin memanas usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan militernya untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, Sabtu (22/6/2025).
Serangan diluncurkan pada dini hari waktu Iran dan menyasar tiga lokasi utama: Fordow, Natanz, serta Isfahan, yang dikenal sebagai pusat kegiatan pengayaan uranium Iran.
Beberapa jam setelah serangan, Trump memberikan pidato resmi di Gedung Putih.
Ia menyatakan bahwa operasi telah “sepenuhnya menghancurkan kemampuan nuklir utama Iran” dan memperingatkan bahwa jika Iran melakukan pembalasan, tragedi yang lebih besar akan menyusul.
“Iran adalah penindas di Timur Tengah. Mereka harus memilih perdamaian. Jika tidak, serangan berikutnya akan lebih besar dan jauh lebih mudah,” ujar Trump, dikutip dari BBC International.
Adapun ketegangan ini terjadi setelah AS dan sekutu-sekutunya, terutama Israel melihat program nuklir Iran sebagai ancaman langsung.
Selama ini, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai.
Namun, AS menuding bahwa pengayaan uranium Iran berada di atas batas yang disepakati dalam perjanjian internasional.
Alasan itu yang kemudian mendorong AS untuk melancarkan opsi pre-emptive strike, yakni serangan pencegahan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, dengan tujuan mempercepat penghentian ambisi nuklir Teheran.
5 Skenario Jika Iran Balas Serangan AS
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sejauh ini belum memberikan respon terkait serangan brutal yang diluncurkan AS,
Kendati demikian para analis memperkirakan lima skenario yang mungkin terjadi jika perang berlanjut, berikut rangkumannya yang dikutip dari NDTV.
Skenario 1: Iran Serang Balik Pangkalan Militer AS
Iran kemungkinan akan membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Irak, Suriah, Bahrain, dan Qatar.
Proyeksi ini dilontarkan bukan tanpa alasan, pasalnya Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa seluruh warga sipil dan personel militer AS di kawasan kini dianggap sebagai “target sah”.
“Republik Islam Iran tidak akan tinggal diam. Kami menyisakan semua opsi dalam merespons tindakan militer yang terang-terangan ini,” ujar , Menteri Luar Negeri (menlu) Iran Abbas Araghchi .
Jika Iran benar-benar menyerang pangkalan militer AS, hal ini bisa dianggap sebagai serangan langsung terhadap negara Amerika Serikat.
Serangan tersebut tak hanya menyebabkan banyak korban, baik di pihak militer maupun sipil jika area serangan dekat dengan permukiman.
Namun juga berpotensi memicu kerusakan pada infrastruktur militer penting seperti hanggar, gudang senjata, atau radar, yang pada akhirnya dapat memperlemah operasi militer AS di kawasan.
Sebagai respons, AS hampir pasti akan membalas dengan kekuatan militer yang lebih besar. Ini berisiko memicu perang terbuka antara dua negara yang memiliki kekuatan militer besar.
Serangan ini akan merusak lebih jauh hubungan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama Amerika dan sekutunya.
Upaya diplomasi bisa berhenti total, dan negara-negara seperti Inggris, Prancis, serta Jerman mungkin akan ikut mendukung langkah militer AS atau memberikan sanksi baru terhadap Iran.
Skenario 2: Israel Serang Garda Revolusi Iran
Jika pada akhirnya Iran membalas serangan AS, maka Israel dipastikan bakal mengambil inisiatif untuk melumpuhkan kekuatan utama militer Iran, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Menurut media asing, militer Israel telah mengeluarkan kebijakan darurat nasional, mengalihkan seluruh aktivitas publik ke status “esensial”.
Langkah ini mencakup penutupan sekolah, larangan pertemuan massal, dan pembatasan aktivitas kerja, kecuali sektor vital seperti medis dan militer.
Dengan menyerang IRGC, Israel ingin melemahkan jaringan milisi proksi seperti Hizbullah, Houthi, dan kelompok Syiah Irak yang didukung penuh oleh IRGC.
Serangan ke IRGC bisa mengirim pesan bahwa Israel tidak hanya menyerang fasilitas militer biasa, tapi siap menghantam jantung pertahanan dan ideologi Iran.
Lebih lanjut serangan ke IRGC bisa menimbulkan gelombang balasan yang menargetkan kota-kota besar. Potensi korban sipil akan meningkat, dan ribuan orang bisa kehilangan tempat tinggal akibat serangan udara dan roket.
Jika skenario ini terjadi, dunia akan menghadapi babak paling berbahaya dari konflik Timur Tengah dalam dua dekade terakhir.
Skenario 3: Iran Aktifkan Sekutu Proksi
Apabila AS dan Israel terus menyerang Iran, maka negara ini berpeluang mengerahkan jaringan sekutunya yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” untuk menyerang Israel dari berbagai front, seperti Lebanon, Suriah, dan Irak.
Kelompok-kelompok tersebut diantaranya Hizbullah, Houthi, milisi Syiah Irak, dan Hamas.
Jika Iran benar-benar mengaktifkan jaringan ini, dampaknya bisa sangat besar dan bahkan mengarah pada perang multi-front yang meluas di Timur Tengah.
Ini karena serangan Hizbullah dan Hamas dapat membuat Israel akan menghadapi perang dua front, memaksa militer Israel menyebar kekuatan dan meningkatkan kemungkinan korban sipil di kedua sisi.
Sementara itu serangan Milisi Syiah di Irak dan Suriah ke pasukan AS atau sekutu Barat di wilayah tersebut dapat membuat situasi keamanan di kawasan menjadi semakin tidak terkendali, terutama di wilayah yang sudah rapuh akibat perang sipil.
Jika semua proksi Iran bergerak bersamaan, perang bisa meluas ke banyak negara:
Israel, Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, dan kemungkinan juga Yordania dan Teluk.
Ini akan menciptakan kondisi mirip Perang Dunia mini di Timur Tengah, dengan jutaan warga sipil terancam.
Skenario 4: Reaksi Diplomatik Rusia dan Tiongkok
Kekhawatiran semakin memuncak apabila Rusia dan Tiongkok, dua kekuatan dunia yang selama ini memiliki hubungan dekat dengan Iran ikut terjun dalam perang.
Sejauh ini Rusia dan Tiongkok baru menunjukkan simpati kepada posisi Teheran dan belum mengambil tindakan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Namun, apabila keterlibatan mereka berubah dari diplomatik menjadi militer atau logistik aktif, dampaknya akan sangat luas, bahkan bisa memicu krisis global.
Jika Rusia dan Tiongkok mendukung Iran secara militer misalnya dengan pengiriman senjata, sistem pertahanan udara, atau bahkan pasukan penasihat maka AS dan NATO bisa merespons.
Hal ini bisa memicu perang langsung antara blok Barat dan blok Timur, mirip seperti Perang Dunia versi modern.
Perang regional bisa berubah menjadi konflik global, mengguncang stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan internasional.
Mengantisipasi meluasnya konflik, pihak internasional kini menyerukan de-eskalasi segera, karena keterlibatan tiga kekuatan militer terbesar dunia dalam satu konflik bisa membawa dampak yang sangat sulit dikendalikan
Skenario 5: Harga Minyak Melonjak Jika Selat Hormuz Ditutup
Opsi terakhir apabila Iran tidak melakukan serangan secara langsung, kemungkinan negara itu akan melakukan pembalasan dengan menutup Selat Hormuz, jalur laut penting tempat seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap hari.
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar aksi militer biasa. Ini adalah langkah strategis yang bisa mengguncang perekonomian global, karena jalur ini menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dari negara-negara Teluk ke seluruh dunia
Harga minyak bisa naik secara tajam dalam hitungan jam, diproyeksi tembus mencapai 150 dolar AS atau setara Rp 2,4 juta per barel, menimbulkan lonjakan inflasi dan risiko resesi global.
Selain itu lonjakan harga energi akan menimbulkan inflasi tinggi, mengganggu stabilitas ekonomi global, dan memicu gejolak pasar keuangan.
Bursa saham dunia diprediksi mengalami tekanan besar, sementara nilai tukar negara berkembang bisa melemah akibat sentimen negatif investor.
Perusahaan pelayaran internasional kemungkinan akan mengalihkan rute atau menunda pengiriman, memperparah gangguan pada rantai pasokan global.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.