Konflik Iran Vs Israel
Anggota DPR Ungkap Lima Skenario Balasan Iran ke AS Bisa Picu Perang Besar
Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, mengecam tindakan militer sepihak Amerika Serikat yang menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Penulis:
Fersianus Waku
Editor:
Malvyandie Haryadi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, mengecam tindakan militer sepihak Amerika Serikat yang menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Sukamta menilai, tindakan tersebut akan mengancam stabilitas global.
"Serangan sepihak yang dilakukan US, sebuah negara besar dengan hak veto dan memiliki bom nuklir terhadap negara yang patuh pada non proliferasi nuklir dan di bawah perjanjian dengan IAEA merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dan membahayakan dunia," kata Sukamta kepada wartawan, Senin (23/6/2025).
Menurutnya, dunia kini menantikan dengan tegang reaksi Iran atas pemboman tersebut. Ada beberapa skenario respons yang mungkin akan ditempuh Teheran, dan masing-masing mengandung risiko eskalasi serius.
Skenario pertama, Iran melakukan pembalasan langsung kepada Amerika Serikat dengan menyerang basis-basis militer AS di negara-negara sekitar Teluk Persia serta kapal induk pengangkut pasukan.
"Kalau ini dilakukan, akan memancing perang habis-habisan dan memberi alasan US menurunkan pasukan penuh menginvasi Iran seperti mereka lakukan terhadap Iraq. Tampaknya itu yang diinginkan US," ujar Sukamta.
Skenario kedua, Iran mengarahkan serangan balasan ke Israel dengan menggunakan drone dan rudal hipersonik, serta mengaktifkan jaringan proksi seperti Hizbullah di utara dan Houthi di selatan. Sukamta menilai, langkah ini akan memberikan tekanan besar kepada AS dan Israel.
"Kalau ini dilakukan, berpotensi membawa kawasan Timur Tengah dalam kondisi membara dalam waktu yang cukup panjang dan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan eskalasi yang besar," ucapnya.
Adapun skenario ketiga, Iran memilih jalan perang asimetris dan proxy, melalui pengaktifan sel tidur, unit siber, dan milisi-milisi tersembunyi yang dapat menyerang secara diam-diam namun mematikan.
"Ini akan menjadi perang dunia siber yang pertama. Serangan model perang asymmetrik ini bisa sangat mematikan dan efektif melumpuhkan sasaran strategis dengan kerugian besar. Kemungkinan berhasil sangat tinggi," tutur Sukamta.
Skenario keempat, Iran menempuh jalur diplomatik dengan mengadukan tindakan AS ke forum multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta menggandeng negara-negara besar seperti Rusia dan China, juga blok Global South, OKI, dan BRICS.
"Kalau ini yang ditempuh, akan memberikan tekanan kepada US dengan potret sebagai negara agresor. Walaupun cara ini tidak efektif membuat US mundur karena US sudah terbiasa melakukan ini seperti di Iraq, Libia, dan lain-lain, namun tetap memberikan tekanan diplomatik yang besar. Ini bagian dari perang persepsi dan narasi," ungkap Sukamta.
Skenario kelima, Iran bermain dalam jangka panjang, membiarkan situasi berdarah perlahan sambil mendorong harga minyak dunia naik tajam yang pada akhirnya bisa mengguncang perekonomian global dan memaksa AS mundur karena tekanan dalam negeri.
Sementara skenario keenam, menurut Sukamta, adalah Iran menahan diri dan tidak merespons dengan kekerasan.
"Dunia sekarang berdebar-debar menantikan langkah Iran dan US serta Israel selanjutnya. Ini bukan hanya soal perang, tetapi ini soal survival," ucap Sukamta.
"Kita berharap semua pihak menahan diri dan Indonesia bisa memainkan peran yang tepat tidak terpancing masuk namun tetap berperan aktif mencegah terjadinya eskalasi," imbuhnya.
Konflik Iran Vs Israel
Israel dan Iran Jauh dari Kata Damai, Perang Bayangan Sengit Intelijen hingga Serangan Siber |
---|
Mossad Israel Sukses Rekrut 'Orang Dalam' Nuklir Iran, Teheran Eksekusi Gantung Rouzbeh Vadi |
---|
Iran Bentuk Badan Baru di Era Perang Lawan Israel: Apa Itu Dewan Pertahanan Nasional? |
---|
Termasuk Alamat Rumah, Iran Klaim Punya Profil Lengkap Para Pilot Israel yang Ikut Perang |
---|
Iran Buka Suara Soal Operasi Rahasia, Bantah Incar Warga Sendiri di Eropa dan Amerika |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.