Jumat, 10 April 2026

Konflik Thailand Vs Kamboja

Thailand dan Kamboja Sepakat Lanjutkan Gencatan Senjata Perbatasan

Thailand dan Kamboja sepakat pada Kamis, 7 Agustus 2025, untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh.

Tangkap Layar Youtube CNA
THAILAND KAMBOJA DAMAI - Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai (kanan) dan Perdana Menteri Kamboja,Hun Manet (kiri) sepakat menerapkan gencatan senjata dalam perundingan yang dimediasi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim (tengah) pada Senin (28/7/2025) Thailand dan Kamboja sepakat pada Kamis, 7 Agustus 2025, untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh. 

TRIBUNNEWS.COM - Thailand dan Kamboja sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dan memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas perbatasan, Kamis, 7 Agustus 2025, 

Kesepakatan ini dicapai setelah empat hari perundingan di Kuala Lumpur, Malaysia, yang dimediasi oleh ASEAN, dengan dukungan dari Tiongkok dan Amerika Serikat.

Kesepakatan ini diputuskan guna meredam konflik bersenjata yang meletus pada 23 Juli 2025 di sepanjang perbatasan kedua negara, yang telah lama disengketakan. 

Pertikaian dipicu oleh ketegangan lama terkait wilayah kuil perbatasan dan diperparah oleh ledakan ranjau darat yang melukai lima tentara Thailand

Selama lima hari pertempuran intens, setidaknya 43 orang tewas, terdiri dari personel militer dan warga sipil. 

Gencatan senjata pertama dicapai pada 28 Juli lalu, namun sempat mengalami pelanggaran terbatas di lapangan.

Kini, kedua negara berkomitmen untuk memperpanjang dan memperkuat kesepakatan tersebut melalui protokol gencatan senjata baru yang lebih terperinci.

Mengutip dari Bangkok Post, dalam pernyataan bersama yang ditandatangani di Kuala Lumpur, Wakil Menteri Pertahanan Thailand Jenderal Nattaphon Narkphanit dan Menteri Pertahanan Kamboja Jenderal Tea Seiha menyepakati 13 poin utama.

Kerangka kerja baru ini dibangun berdasarkan kesepakatan 7 poin sebelumnya yang dibahas di tingkat komando militer regional, yang mencakup:

  • Gencatan senjata total tanpa syarat di seluruh wilayah perbatasan
  • Perlindungan penuh terhadap warga sipil dan objek sipil

Baca juga: Thailand Ajukan 13 Proposal ke Kamboja dalam Perundingan Damai di Malaysia

  • Pembekuan bala bantuan militer dan gerakan pasukan
  • Fasilitasi pemulangan penduduk sipil yang mengungsi
  • Pembentukan tim koordinasi cepat bilateral beranggotakan delapan orang (empat dari masing-masing negara)
  • Larangan menyebarkan informasi palsu atau provokatif yang dapat memicu ketegangan

Jenderal Tea Seiha kemudian menekankan bahwa perpanjangan gencatan senjata ini untuk menyelamatkan rakyatnya.

"Kami di sini bukan hanya untuk menghentikan tembakan, tetapi untuk menyelamatkan nyawa dan membangun kembali kepercayaan," ujar Tea Seiha dalam konferensi pers usai penandatanganan, dikutip dari Lemonde.fr.

"Langkah-langkah ini penting untuk memulihkan kenormalan bagi rakyat kita yang hidup di wilayah perbatasan," tambahnya.

Dalam kesepakatan tersebut, ditegaskan bahwa kedua belah pihak harus mematuhi keputusan gencatan senjata.

"Kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata yang melibatkan semua jenis senjata, termasuk serangan terhadap warga sipil dan objek sipil serta sasaran militer kedua belah pihak, dalam semua kasus dan di semua wilayah," demikian bunyi pernyataan tersebut. 

"Perjanjian ini tidak boleh dilanggar dalam keadaan apa pun," tambah pernyataan tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved