Sabtu, 25 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Negara-negara Arab Kecam Pernyataan Netanyahu tentang 'Israel Raya'

Negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Netanyahu tentang misi 'Israel Raya'.

YouTube United Nations
NETANYAHU BERPIDATO - Tangkapan layar YouTube PBB diambil pada Kamis (14/8/2025) memperlihatkan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Negara Israel, menyampaikan pidatonya pada debat umum Sidang ke-78 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada 22 September 2023. Pada 13 Agustus 2025, negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Netanyahu tentang misi 'Israel Raya'. 

Ketika ditanya apakah ia merasa terhubung dengan Israel Raya, Netanyahu menjawab, "Sangat."

Netanyahu mengklaim dirinya sedang menjalankan misi untuk orang-orang Yahudi yang menginginkan untuk datang ke Israel Raya.

"Saya bertugas untuk beberapa generasi, ada beberapa generasi Yahudi yang bermimpi datang ke sini dan beberapa generasi Yahudi yang akan datang setelah kami," jawab Netanyahu pada hari Selasa (12/8/2025).

“Jadi jika Anda bertanya apakah saya memiliki rasa misi, secara historis dan spiritual, jawabannya adalah ya,” katanya, lapor The Times of Israel.

Frasa Israel Raya digunakan setelah Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967 untuk merujuk pada Israel, wilayah Yerusalem Timur dan Tepi Barat, Jalur Gaza, sebagian Yordania dan Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan di Suriah, dan sebagian Lebanon dan Irak.

Pada Januari lalu, akun resmi Kementerian Luar Negeri Israel di salah satu platform daring mempublikasikan sebuah peta yang memalsukan sejarah Israel dengan mengklaim asal-usulnya dari ribuan tahun silam.

Peta tersebut selaras dengan klaim berulang Israel mengenai adanya “kerajaan Yahudi” yang mencakup bagian wilayah Palestina yang diduduki, Yordania, Lebanon, Suriah, hingga Mesir.

Negara-negara Arab seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Palestina, dan Arab Saudi bereaksi keras terhadap publikasi peta itu, menilainya sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional sekaligus upaya ekspansi.

Peta tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon sebagai bagian dari Israel. Menurut negara-negara Teluk, tindakan ini berpotensi menghambat proses perdamaian, meningkatkan ketegangan, dan mengancam solusi dua negara bagi Palestina.

Insiden ini mengingatkan pada Maret 2023, ketika Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, tampil di Paris dengan peta “Israel Raya” yang memasukkan Yordania ke dalam wilayah Israel.

Selama beberapa dekade, Israel telah menduduki sejumlah wilayah di Palestina, Suriah, dan Lebanon, dan terus menolak untuk mundur dari wilayah-wilayah tersebut.

Selain itu, Israel juga menolak pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, sesuai garis perbatasan sebelum tahun 1967.

Israel terus melancarkan serangan di Jalur Gaza dengan menuding Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran di wilayah tersebut.

Bagi Israel, Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan oleh Hamas dan kelompok perlawanan lainnya pada 7 Oktober 2023 menjadi alasan untuk memulai ofensif militer di Gaza.

Pada hari pelaksanaan operasi itu, Hamas bersama kelompok perlawanan lain berhasil menembus pertahanan Israel di perbatasan Jalur Gaza dan Israel selatan, serta menahan setidaknya 250 orang.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved