Orang Tua di AS Gugat OpenAI usai Anaknya Akhiri Hidup Imbas Diyakinkan oleh Chat GPT
OpenAI digugat orang tua di California akibat anaknya mengakhiri hidup diduga setelah diyakinkan oleh ChatGPT.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Orang tua dari seorang remaja asal California, Amerika Serikat (AS), bernama Adam Reine (16), menggugat perusahaan teknologi, OpenAI.
Dikutip dari The Guardian, gugatan itu buntut chatbot milik OpenAI, Chat GPT, diduga kuat justru meyakinkan Adam Reine untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
Tak cuma terkait itu, Chat GPT juga disebut turut memberitahu Adam Reine soal cara mencuri minuman keras (miras) milik orang tuanya.
Sementara, gugatan terhadap OpenAI telah dilayangkan orang tua Adam Reine ke Pengadilan California pada Selasa (26/8/2025) lalu.
Adam Reine ditemukan tewas gantung diri setelah beberapa saat sebelumnya 'berkomunikasi' dengan Chat GPT pada 11 April 2025 lalu.
Dalam komunikasi tersebut, tertulis Chat GPT memberikan penjelasan detail kepada Adam Rein terkait cara mengakhiri hidup.
Baca juga: Pemuda 21 Tahun Ditemukan Akhiri Hidup di Kontrakan Bekasi Timur
Menurut keterangan dari orang tua Adam Reine, korban sudah menggunakan Chat GPT sejak September 2024 yang awalnya bertujuan untuk membantu tugas sekolahnya.
Namun, dalam beberapa bulan, Chat GPT justru menjadi teman curhat Adam Reine.
"Chat GPT menjadi teman curhat remaja tersebut dan dia mulai berbagi tentang kecemasan dan gangguan mentalnya," demikian isi dari gugatan, dikutip dari BBC.
Lalu, pada Januari 2025, Adam Reine disebut mulai membahas soal metode mengakhiri hidup dengan Chat GPT.
"Adam juga mengunggah foto dirinya ke Chat GPT yang menunjukkan tanda-tanda menyakiti diri sendiri. Program tersebut seharusnya 'mengenali keadaan darurat medis tetapi justru tetap melanjutkan interaksi," demikian isi dari gugatan orang tua Adam Reine.
Dalam gugatan itu, turut dijelaskan pula balasan Chat GPT soal niat Adam Reine yang ingin mengakhiri hidup yang dinilai turut mendukungnya.
"Terima kasih telah jujur tentang hal ini. Kamu tidak perlu menyembunyikan hal itu dariku. Aku tahu apa yang kamu tanyakan, dana aku tidak akan berpaling darinya," demikain tanggapan Chat GPT.
Hal ini lah yang melatarbelakangi orang tua Adam Reine menggugat Open AI karena Chat GPT dianggap memicu ketergantungan terhadap sang anak.
CEO OpenAI, Sam Altman pun menjadi pihak tergugat bersama dengan karyawan, manajer, serta insinyur yang tidak disebutkan namanya.
Dilansir ABC News, OpenAI mengakui sistem di Chat GPT 'kurang memadai' dan berjanji akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat terhadap konten sensitif dan perilaku berisiko bagi pengguna di bawah 18 tahun.
Berkaca dari kasus Adam Reine, OpenAI juga bakal meluncurkan fitur parental control atau kontrol orang tua.
Kekhawatiran soal kecerdasan artifisial atau artificial intelligence dengan kesehatan mental memang tengah menjadi sorotan.
Bahkan, korbannya tidak hanya Adam Reine. Seorang remaja perempuan bernama Sophie turut tewas akibat mengakhiri hidup setelah berkomunikasi intens dengan chatbot terapis berbasi AI bernama Harry.
Kasus ini pun diungkap oleh ibunya, Laura Reiley, lewat opini yang ditulis di The New York Times.
Reiley mengungkapkan 'terbukanya program tersebut dalam percakapan bersama dengan putrinya membuat keluarga tidak mengetahui Sophie menyembunyikan kesehatan mental yang dialaminya selama ini.
“AI memenuhi keinginan Sophie untuk menyembunyikan hal terburuk, berpura-pura bahwa dia baik-baik saja, dan melindungi semua orang dari penderitaan yang sebenarnya,” tulis Reiley.
Lantas, Reiley membandingkan antara terapis AI dengan terapis manusia.
Baca juga: Siswa SMA di Garut Diduga Akhiri Hidup Karena Korban Bully, Dedi Mulyadi Nonaktifkan Kepala Sekolah
Dia mengatakan terapis manusia memiliki batasan hukum dan etik yang jelas terkait pelaporan potensi tindak berbahaya terhadap seseorang yang berkonsultasi dengannya.
Namun, hal tersebut tidak dimiliki oleh terapis AI.
"Sebagian besar terapis manusia bekerja di bawah kode etik yang mencakup pelaporan wajib dan batasan atas kerahasiaan. Al tidak memiliki versi Sumpah Hippocrates," kata dia.
Ia juga menilai Sophie mungkin sengaja menyembunyikan pikiran terdalamnya dari terapis manusia karena takut akan konsekuensi nyata seperti rawat inap atau pemantauan medis.
Sebaliknya, chatbot yang selalu tersedia dan tidak menghakimi menjadi tempat yang lebih aman bagi Sophie untuk mencurahkan isi hatinya.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.