Rabu, 3 Juni 2026
Deutsche Welle

Merawat momentum kerukunan beragama di Indonesia

Menteri Agama menyebut indeks kerukunan beragama Indonesia tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Lebaran 2026 menjadi momen merawat kebersamaan…

Tayang:
Deutsche Welle
Merawat momentum kerukunan beragama di Indonesia 

Kerukunan umat beragama di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif. Pada Desember 2025, pemerintah merilis Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang mencapai skor tertinggi dalam 11 tahun terakhir.

"Berdasarkan hasil pengukuran nasional, Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2025 tercatat sebesar 77,89 dan berada dalam kategori tinggi," kata Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani.

Survei tersebut mengukur tiga indikator utama, yakni toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Di balik angka itu, kerukunan tidak hanya hidup dalam data, tetapi juga tumbuh dari praktik sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.

Lebaran 2026 pun menjadi momen untuk kembali merawat nilai-nilai tersebut. Dimulai dari hal kecil, dari cara kita hadir, berbagi, dan memandang sesama.

Berbagi tanpa sekat iman di kolong rel Jatinegara

Di bawah kolong rel kereta Jatinegara, Jakarta Timur, praktik toleransi lintas agama tumbuh dalam keseharian yang sederhana. Di ruang sempit yang jauh dari gemerlap kota, anak-anak belajar, bermain, dan menjalani Ramadan bersama.

Menjelang waktu berbuka, mereka mulai berkumpul. Ada yang duduk melingkar, ada pula yang tetap bermain bersama temannya. Di tengah segala keterbatasan yang ada, suasana terasa hangat. Kebersamaan hadir tanpa banyak syarat.

Di antara mereka, Daniel ikut duduk dan berbaur. Seorang guru agama Kristen berusia 33 tahun yang sudah 15 tahun rutin mengunjungi tempat ini. Pada hari kerja, ia mengajar di sebuah sekolah terpadu. Namun setiap akhir pekan, ia kembali ke kolong rel untuk mendampingi 96 anak yang seluruhnya beragama Islam.

Kehadirannya bukan sesuatu yang instan. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang Komunitas Gumul Juang, yang didirikan sejumlah calon pendeta dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta pada 2009.

Namun setelah komunitas ini berdiri, banyak di antara para pendiri telah memilih jalurnya masing-masing untuk melayani Gereja. Alhasil, Daniel pun kini seorang diri dalam menjalani seluruh kegiatan Komunitas Gumul Juang.

Selama bertahun-tahun, Daniel hidup berdampingan untuk memahami kehidupan warga kolong rel Jatinegara dari dekat, bahkan tinggal bersama mereka.

"Kami ingin menyatu dengan warga dan hidup bersama-sama. Kami bahkan sempat tinggal bersama mereka lebih dari lima tahun," kata Daniel.

Dari situ, hubungan yang terbangun melampaui sekadar relawan dan penerima bantuan. Daniel menyebut orang tua di sana sebagai "mamah" dan "ayah", sebuah panggilan yang mencerminkan kedekatan yang tumbuh perlahan.

Di ruang itu, perbedaan agama tidak menjadi batas. Justru menjadi bagian dari keseharian yang diterima apa adanya.

"Kami memang beragama Kristen dan mereka semua beragama muslim. Tapi kami tidak berlandaskan agama, melainkan kemanusiaan," ujarnya.

Menurut Daniel, tembok perbedaan yang sering terasa besar di kota seperti Jakarta bisa mencair ketika orang memilih hadir dan saling mengenal. Ia tak menampik begitu banyak kesulitan yang ia hadapi karena perbedaan tersebut, termasuk penolakan. Namun, pelan-pelan tembok pembatas itu hancur dengan komunikasi yang konsisten.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved