Merawat momentum kerukunan beragama di Indonesia
Menteri Agama menyebut indeks kerukunan beragama Indonesia tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Lebaran 2026 menjadi momen merawat kebersamaan…
"Kita selalu dibenturkan dengan perbedaan, tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan bersama. Padahal, kita punya satu nilai yang sama, yaitu memanusiakan manusia," katanya.
Di akhir pekan, Daniel mendampingi anak-anak belajar, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk memahami agama Islam dengan nyaman. Dari situ, ia melihat perubahan kecil mulai tumbuh dari anak-anak di sana.
"Kadang mereka tanya, ‘Kak, sudah gereja?’ Itu hal kecil, tapi menunjukkan mereka sudah terbuka dengan perbedaan," ujarnya.
Selama Ramadan, kebersamaan itu terasa lebih dekat. Daniel ikut menemani anak-anak ngabuburit hingga berbuka, menjaga semangat mereka menjalani puasa, bahkan mencarikan donatur untuk memberikan hadiah bagi anak-anak yang berhasil menuntaskan puasa secara penuh.
Baginya, Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga momen untuk kembali pada nilai dasar sebagai manusia.
"Ramadan itu momen kita kembali ke fitrah, kembali ke titik suci sebagai manusia, tanpa pikiran negatif tentang sesama," katanya.
Kegiatan sederhana seperti belajar bersama, kerja bakti, hingga berbuka puasa bersama menjadi cara merawat kebersamaan itu. Menjelang Lebaran, komunitas ini juga menggelar pasar murah serta membagikan beras dan daging kepada warga.
Bagi Daniel, semua itu berangkat dari hal yang paling mendasar, yakni niat untuk berbuat baik.
Ia percaya, ketika kebaikan dijalankan dengan tulus, orang lain akan melihat dan merasakannya. Perlahan, perbedaan pun tidak lagi menjadi jarak, melainkan jembatan.
"Kalau kita mau melakukan dengan nilai baik, maka orang akan melihat nilai baik itu. Dan mereka akan melihat bahwa Daniel yang beragama Kristen adalah sesamanya. Dan kita saudara," ujarnya.
Harmoni Nyepi dan Ramadan di Bali
Di Desa Adat Tuban, Bali, keheningan Nyepi berjalan berdampingan dengan ibadah Ramadan. Di tengah suasana sunyi, tanpa pengeras suara, dan dengan pencahayaan minimal, tarawih tetap berlangsung.
Malam itu, Haji Sidik terlihat mengenakan pakaian pecalang, yakni petugas keamanan di desa adat di Bali. Ia bukan hanya menjaga ketertiban desa, tetapi juga memimpin aktivitas di Masjid Asasutaqwa sebagai ketua takmir.
Peran gandanya menjadi penting ketika dua momen keagamaan hadir bersamaan. Ia membantu memastikan kesepakatan antarwarga tetap berjalan, agar setiap umat bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang.
"Warga di sini sudah terbiasa dengan suasana ini. Tidak masalah, karena sudah saling memahami," ujarnya.
Di desa yang dihuni warga dengan berbagai latar belakang agama, keterbukaan menjadi kunci. Warga sudah terbiasa menyesuaikan diri, menjaga keseimbangan antara aturan adat dan kebutuhan ibadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76498355_403.jpg.jpg)