Di Balik Kedekatan Taliban dan Rusia
Rusia dan Taliban Afganistan menjalin kesepakatan perbaikan senjata peninggalan era Soviet dan buatan Rusia. Meski bukan pakta pertahanan,…
Peneliti hubungan internasional Idrees Rahmani menyebut Afganistan kerap terseret dalam rivalitas kekuatan global akibat kelemahan struktural ekonominya. Dia menjelaskan, tanpa ekonomi domestik yang kuat, pemerintah Afganistan cenderung bergantung pada pihak luar yang mampu menopang stabilitas negara, meski harus menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut.
Rahmani juga menyoroti tumpang tindihketegangan global, mulai dari rivalitas Amerika Serikat dan Cina, konflik Rusia dengan Barat terkait perang di Ukraina, hingga ketegangan India–Pakistan serta dinamika di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Afganistan dinilai berisiko terombang-ambing "seperti pusaran angin” di tengah perubahan tersebut.
Langkah Rusia mendekati Taliban dinilai mencolok jika dilihat dari konteks sejarah Afganistan. Invasi Soviet pada 1979 dan perang yang mengikutinya menjadi salah satu trauma besar bagi negara itu, memaksa jutaan orang mengungsi dan membentuk ulang kondisi sosial Afganistan selama puluhan tahun.
Di tengah latar sejarah tersebut, Moskow kini memposisikan diri sebagai mitra keamanan bagi Taliban.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Rizki Nugraha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle74274248_403.jpg.jpg)